Pulang Sekolah

 
 
Bel pulang sekolah berbunyi lebih dari dua jam yang lalu. Namun gadis itu masih berdiri termangu di depan kelas. Menatap entah apa, memikirkan entah apa, sesuatu yang tidak terbaca. Dan disini aku masih memandangnya dari kejauhan.
 
Kini dia berjalan menuruni tangga. Lalu berhenti di depan mading yang telah dibacanya puluhan kali. Karya sastra bulan ini oleh anonim ‘AA’. Tips dan trik tentang bagaimana merawat piringan CD. Ramalan horoskop untuknya cukup bagus terutama soal kesehatan. Artikel-artikel tersebut dia baca hampir setiap hari. Hingga hafal penerbit buku yang dijadikan referensi di kolom Fakta Belaka.
 
Dia masih berdiri di depan mading. Satu-satunya hiburan selagi menunggu. Sementara seluruh temannya mungkin sudah tidur siang.
 
Kupandangi wajahnya. Rautnya bergetar hambar. Umurnya tak lebih dari 13 tahun, namun pandangan itu menunjukkan sesuatu yang lain. Rasa berat hati dan kepasrahan. Semua dalam keluguan. Di balik rambut lusuh dan kulit berminyak setelah menghabiskan waktu di dalam kelas tanpa kipas. Andaikan aku bisa menyelami pikirannya, pasti akan aku lihat deretan kegelisahan.
 
Ingin kubisikkan padanya, “Tak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Bahwa nanti kau akan memperoleh begitu banyak berkah. Bertahanlah.”
 
Sekarang dia duduk di bawah mading, menghadap tembok. Lalu bernyanyi lagu Christina Aguilera yang sedang cukup populer. Seperti yakin tidak akan ada yang mendengarnya, dia mengeraskan suara. Benar saja. Sekolah ini sudah terlalu sepi. Sedangkan dia tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu.
 
Setelah selesai bernyanyi, dia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Melewati lemari piala-piala yang tidak pernah sekalipun ia sumbangkan kepada sekolah. Dia hanya gadis biasa saja. Tidak pintar, tidak cantik, tidak populer. Sama sekali tidak luar biasa. 
 
Gadis berambut panjang itu memutuskan duduk di lapangan. Sambil menyanyikan lagu The All-American Rejects. (Dia cukup bangga karena up-to-date dengan lagu Barat yang kebanyakan diunduhnya di warnet)
 
Kupikir sudah waktunya memperkenalkan diri. Tidak seharusnya aku terus menguntit dan memberi narasi atas gerak-geriknya. Aku berjalan menghampiri, “Sasa,” sapaku namun dia tidak memberikan tanggapan. “Sasa. Hey, Sasa!”
 
“Sasa?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Kupandang Dino berdiri di depan bilik.
 
“Iya, Dino?”
 
“Kok malah ngelamun? Ayo buruan. Kita telat meeting.”
 
Aku gugup, “Oh iya. Udah jam 2, ya.” Aku bangkit berdiri dan berjalan di belakang Dino. Pria jangkung itu menoleh ke belakang untuk memastikan aku mengikutinya.
 
“Buruan, Sa. Nanti kamu presentasi bagian homework plan ya. Biar aku bagian teknis peminjaman buku mingguan,” Dino memberi instruksi.
 
“Iya, siap,” ucapku sambil menarik nyawa yang tertinggal dibalik lamunan. Nyawa yang telah mencicipi rupa dunia dan senang menjelajah waktu ke masa lalu.

Di Titik Tengah


Dia adalah segalanya. Bagaikan semilir angin laut yang menerpa rambutku saat di pantai, kupu yang hinggap di bunga yang kutanam sejak bibit, hangat selimut dikala hujan badai, musik merdu yang memanjakan jiwa, serta kepastian cahaya di ujung lorong gelap.
 
Aku ingin mendekapnya. Menahannya di titik ini untuk menemaniku berlayar mengarungi samudera -- atau aku yang menemaninya, sama saja. Memilikinya untukku sendiri. Menyuruhnya jangan kembali ke dekapan masa lalu. Mengajaknya makan malam sambil bercerita tentang rupa dunia. Melihatnya tertawa. Menyaksikannya jatuh cinta.. padaku.
 
Aku. Begitu banyak rasa sakit yang kusimpan dan dia mampu mengobati.. dengan nasihat bijak dan candaan renyah. Cukup dengan tatapan hangat, sentuhan lembut, dan pelukan melindungi. Seakan aku tidak akan merasa sakit lagi. 
 
Dia. Terlalu banyak tawa palsu yang dia paksakan, dan di hadapanku, dia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memaksa ceria -- menelanjangi jiwanya seutuh-utuhnya. Tanpa rahasia. Tanpa topeng seakan ‘aku baik-baik saja’. Tanpa harus malu saat meneteskan air mata. Karena bagiku, beban bukan sebuah hal yang harus ditutupi, dikunci dalam ruang seakan tidak ada -- melainkan dilepaskan, untuk dibagi denganku.. belahan jiwanya. 
 
Kami adalah dua manusia yang mencari kebahagiaan. Dibalik idelaisme kami yang benar-benar berbeda. Aku kebarat-baratan, sedangkan dia nyaman dengan budaya timur. Dia mengalir seperti air sungai, sedangkan aku memiliki banyak ambisi duniawi. 
 
Perbedaan mempertemukan kami di titik tengah -- di tengah pencarian atas makna hidup serta arti sesungguhnya dari memahami. Kami jatuh cinta dalam pelarian dan pencarian.

The Secret Place


Sherlock Holmes menyebutnya mind palace, aku menyebutnya the secret room. Ruang rahasia. Tempat aku menjejalkan idealismeku tentang dunia -- bahwa satu tambah satu sesungguhnya tidak mempunyai jawaban signifikan. Tempat pikiranku meloncat-loncat dari satu konsep ke konsep lainnya, berlarian menciptakan definisi sebuah fenomena, menari-nari dengan argumen dalam inner dialogue.

Kepalaku adalah tempat ter-asik di jagad raya. 
 
Aku bisa saja tertawa dan berpura-pura menikmati pesta, berdansa sambil menenggak cola. Padahal sebenarnya aku berpikir segalanya benar-benar membosankan. Orang-orang yang pada dasarnya berkarakter sama, yang memiliki kehidupan monoton, yang saling menggantungkan diri satu sama lain, yang jenuh pada rutinitas lalu menciptakan bahagia dengan mengadakan pesta layaknya hari raya. Padahal bagiku, aku bisa mendapatkan segalanya dalam pikiranku sendiri. Bahagia yang aku ciptakan sendiri. Tanpa bergantung pada apapun. Karena aku manusia bebas. Tidak seperti mereka.
 
Kepalaku adalah tempat teraman di semesta.
 
Kau tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan tentang segala sesuatu. Karena seringnya aku berbicara sesuai apa yang diinginkan oleh society. Kurasa itulah titik lemah masyarakat dunia. Bahwa mereka menciptakan konsep tertentu tentang ada dan tiada di muka bumi. Bahwa apa yang disepakati untuk ada, maka ada. Sedangkan yang disepakati untuk tiada, maka takkan pernah ada. Orang-orang selalu ingin mendengar, melihat, dan merasakan apa yang mereka suka. Jadi, aku lebih sering memberi apa yang mereka inginkan, tidak peduli apa yang sebenarnya aku pikirkan. 
 
Tidak terhitung berapa orang yang telah menyebutku pribadi yang rumit. Jangankan orang lain, kadang aku pun tidak mengerti diriku sendiri. Sering aku ingin rehat sebentar dan melepaskan kepalaku. Lari dari segala mondar-mandirnya pikiran yang bagaikan hujan tiada henti menciptakan genangan besar.
 
Aku tidak pernah meminta sebuah penerimaan atas segala yang menempel di diriku. Bahwa aku adalah aku -- beserta segala hal gila yang kusimpan di dalam kepala.