Di Titik Tengah

 
Dia adalah segalanya. Bagaikan semilir angin laut yang menerpa rambutku saat di pantai, kupu yang hinggap di bunga yang kutanam sejak bibit, hangat selimut dikala hujan badai, musik merdu yang memanjakan jiwa, serta kepastian cahaya di ujung lorong gelap.
 
Aku ingin mendekapnya. Menahannya di titik ini untuk menemaniku berlayar mengarungi samudera -- atau aku yang menemaninya, sama saja. Memilikinya untukku sendiri. Menyuruhnya jangan kembali ke dekapan masa lalu. Mengajaknya makan malam sambil bercerita tentang rupa dunia. Melihatnya tertawa. Menyaksikannya jatuh cinta.. padaku.
 
Aku. Begitu banyak rasa sakit yang kusimpan dan dia mampu mengobati.. dengan nasihat bijak dan candaan renyah. Cukup dengan tatapan hangat, sentuhan lembut, dan dekapan melindungi. Seakan aku tidak akan merasa sakit lagi. 
 
Dia. Terlalu banyak tawa palsu yang dia paksakan, dan di hadapanku, dia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memaksa ceria -- menelanjangi jiwanya seutuh-utuhnya. Tanpa rahasia. Tanpa topeng seakan ‘aku baik-baik saja’. Tanpa harus malu saat meneteskan air mata. Karena bagiku, beban bukan sebuah hal yang harus ditutupi, dikunci dalam ruang seakan tidak ada -- melainkan dilepaskan, untuk dibagi denganku.. belahan jiwanya. 
 
Kami adalah dua manusia yang mencari kebahagiaan. Dibalik idelaisme kami yang benar-benar berbeda. Aku kebarat-baratan, sedangkan dia nyaman dengan budaya timur. Dia mengalir seperti air sungai, sedangkan aku memiliki terlalu banyak ambisi duniawi. 
 
Perbedaan mempertemukan kami di titik tengah -- di tengah pencarian atas makna hidup serta arti sesungguhnya dari memahami. Kami jatuh cinta dalam pelarian dan pencarian.

The Secret Place


Sherlock Holmes menyebutnya mind palace, aku menyebutnya the secret room. Ruang rahasia. Tempat aku menjejalkan idealismeku tentang dunia -- bahwa satu tambah satu sesungguhnya tidak mempunyai jawaban signifikan. Tempat pikiranku meloncat-loncat dari satu konsep ke konsep lainnya, berlarian menciptakan definisi sebuah fenomena, menari-nari dengan argumen dalam inner dialogue.

Kepalaku adalah tempat ter-asik di jagad raya. 
 
Aku bisa saja tertawa dan berpura-pura menikmati pesta, berdansa sambil menenggak cola. Padahal sebenarnya aku berpikir segalanya benar-benar membosankan. Orang-orang yang pada dasarnya berkarakter sama, yang memiliki kehidupan monoton, yang saling menggantungkan diri satu sama lain, yang jenuh pada rutinitas lalu menciptakan bahagia dengan mengadakan pesta layaknya hari raya. Padahal bagiku, aku bisa mendapatkan segalanya dalam pikiranku sendiri. Bahagia yang aku ciptakan sendiri. Tanpa bergantung pada apapun. Karena aku manusia bebas. Tidak seperti mereka.
 
Kepalaku adalah tempat teraman di semesta.
 
Kau tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan tentang segala sesuatu. Karena seringnya aku berbicara sesuai apa yang diinginkan oleh society. Kurasa itulah titik lemah masyarakat dunia. Bahwa mereka menciptakan konsep tertentu tentang ada dan tiada di muka bumi. Bahwa apa yang disepakati untuk ada, maka ada. Sedangkan yang disepakati untuk tiada, maka takkan pernah ada. Orang-orang selalu ingin mendengar, melihat, dan merasakan apa yang mereka suka. Jadi, aku lebih sering memberi apa yang mereka inginkan, tidak peduli apa yang sebenarnya aku pikirkan. 
 
Tidak terhitung berapa orang yang telah menyebutku pribadi yang rumit. Jangankan orang lain, kadang aku pun tidak mengerti diriku sendiri. Sering aku ingin rehat sebentar dan melepaskan kepalaku. Lari dari segala mondar-mandirnya pikiran yang bagaikan hujan tiada henti menciptakan genangan besar.
 
Aku tidak pernah meminta sebuah penerimaan atas segala yang menempel di diriku. Bahwa aku adalah aku -- beserta segala hal gila yang kusimpan di dalam kepala.

Meja Mahoni

“Kastil yang arsitekturnya indah ala Eropa, tapi interior di dalamnya mentok meja mahoni. Itu perumpaan yang menggambarkan Ani. Memasuki kastil itu dengan menyernyitkan dahi. Itu bagaimana perasaanku terhadap hubungan kami,” Tegas Fitra dengan puitis, sembari tangan kanannya menggapai sesuatu di udara, entah apa.
 
Aku hanya mengangguk sekejap. Penampilan band indie yang sedang berlangsung di kafe agaknya lebih menarik daripada kisah roman picisan. Kusesap rokok di tangan untuk terakhir kali, lalu melemparnya ke asbak di atas meja. Sebotol bir telah menemukan jalannya di sistem pencernaan. Sudah waktunya memesan botol kedua.
 
“Mas, satu lagi ya,” Lambaiku pada salah satu pelayan.
 
“Nih ya, kalo WA dia ga aku bales dalam lima belas menit, dia bakalan telpon dan konfirmasi keadaan! Bak agen intelejen meminta kepastian misi kehidupan! Bisa gila!”
 
Akhirnya Fitra mendapat perhatianku, “Ya kenapa mulai?”
 
“Mulai apanya?”
 
“Pacaran sama Ani, lah! Menyesali keputusan sendiri dan maki-maki. Itu namanya membodohkan diri sendiri. Kamu yang gila.”
 
Fitra menghela nafas sekejap, bersiap-siap untuk menyerbu penjelasan, “Dulu dia ngga seperti itu. Pertama lihat ya, aku udah jatuh cinta. Cantiknya minta ampun! Orangnya baik juga. Dia pujaan di kampus dan bahkan di kantor. Bidadari ternyata mau sama makhluk kayak aku. Ya mana bisa ditahan.”
 
“Kamu tampil di hadapannya pakai seragam sih. Lencanamu berbinar, menyilaukan,” Sanggahku.
 
“Itu kan senjataku biar dapat cinta. Jaman sekarang, siapa yang ngga kelepek-kelepek sama tentara.”
 
Botol bir keduaku sudah hadir di hadapan. Aku harus segera meminumnya, sebelum secara tidak sadar aku melemparkannya ke kepala pria kekar di hadapanku ini, “Berapa duit keluar setiap bulan?”
 
At least dua juta,” Jawab Fitra singkat.
 
“Lalu apa timbal baliknya?”
 
“Maksudnya?”
 
“Timbal balik.”
 
“Sisca! Ngomong yang jelas sih!”
 
“Isinya Fitra! Isi Kastil megah itu apa? Kepintaran, keahlian? Dengan dua juta sebulan itu kamu dapat bonus apa selain wajah cantik, bodi bohai, dan kebanggaan punya pacar dandanan artis?,” Cercahku tidak sabar.
 
Sejam yang lalu aku masih berlapang dada mendengar keluhan tentang hubungan yang baru berumur empat bulan ini. Sekarang telingaku mulai panas. Aku hanya ingin bersantai menikmati malam sembari mendengar lantunan lagu live di tengah kota Jogja yang dirundung hujan.
 
Fitra memutar kedua bola matanya, “Ya yang tadi aku bilang. Mentok meja mahoni.”
 
“Hahahahahaha!,” Aku terbahak antara kasihan dan geli tidak tertahan. Kuputuskan roman picisan ini tidak seharusnya kuberi perhatian. Pandanganku kelempar keluar jendela, sementara telinga hanya kupasang untuk mendengar perpaduan air hujan dan alunan lagu penghantar tengah malam.