2015

Hampir pukul enam sore di sebuah kafe pinggir kota. Aku duduk sendirian menikmati secangkir coklat panas. Merayakan kemerdekaan atas segala yang menjeratku sedemikan lama. Aku sedang terpaku pada langit malam saat kudengar lagu Bee Gees diputar.
 
And you come to me on a summer breeze 
Keep me warm in your love then you softly leave 
And it's me you need to show 
How deep is your love 
 
Dalam sekejap pikiranku terseret dalam piringan hitam. Terputar dua tahun mundur. Malam itu, dalam bus yang menuju pulau Dewata. Lagu ini terus kumainkan. Kuingat benar bagaimana rasanya. Lagu indah sebagai pengantar sementara pikiran terbuncah kebagiaan. Akhirnya aku memilikinya, pikirku. Hidupku akan bahagia selamanya. Saat itu kupandang langit malam dibalik kaca -- sama seperti yang kulakukan sekarang. 
 
Lalu pikiranku kembali lagi di masa sekarang. Kini tak ada yang tertinggal. Semua rasa membuncah itu tak lagi tersisa. Hanya sia yang pilu. Angan tak lazim yang terhempas debur ombak takdir.
 
Aku tidak peduli lagi. Telah kutemukan bahagiaku sendiri. 
 
Dan apabila kau berpikir ini tentang cinta pada pria, kau sama sekali tidak mengenalku. Ini dua tahun lalu. 2015.

Opto, Ergo Sum

 
Seorang penulis pernah berkata, “Opto, Ergo Sum. Aku memilih maka aku ada.”
 
Aku tak genap setitik ketika dibandingkan dengan luas semesta. Hanya secuil kehidupan diatas katulistiwa. Helai benang yang disulam menjadi tubuh ringkih, selalu bergidik ketika mendengar kata marabahaya. Tak ada hebatnya.
 
Apabila bisa memilih, aku ingin terlahir dengan segala kelebihan. Lebih penampilan, lebih kepintaran, lebih kekuatan. Namun, nyatanya.. aku terlahir sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Dan aku tetap ada.
 
Ketika ada ungkapan ‘Opto, Ergo Sum, kemungkinan besar persoalan memilih ini ada di dunia lahir. Yaitu ketika kita sudah diberkahi kehidupan. Artinya eksistensi manusia dapat dikukuhkan apabila individu tersebut mampu mengambil opsi untuk mempertahankan hidupnya. Menentukan jalan mana agar bisa hidup dengan segala kelebihan serta kekurangan.
 
Kemudian, muncul pertanyaan mengenai kesempatan memilih sebelum lahir. Agar ada, aku tidak pernah memilih. Lalu bagaimana bila aku memilih untuk tidak ada? 
 
Jawabannya, aku tidak diberi kekuatan untuk memilih di kehidupan ruh. Hanya satu kali dipilihkan sebuah opsi. Yaitu untuk hidup. Selanjutnya, sejak hembus nafas pertama, aku berjuang mati-matian untuk bertahan di siklus kehidupan melalui berbagai jalan bercabang.
 
Aku tidak memilih untuk ada. Namun agar tetap ada serta bermakna, jalan terbaik dan yang terus naik harus dipilih.
 
Karena tidak ingin percuma. Aku tidak akan hidup segan, mati tak mau.

Fiction


Someone asked me, “Have you ever written, spoken, or created anything real?’
 
Then I answered, “Not really because I have never been so smart. Only been hanging on a certain sarcastic ability that is mixed with madness and irony.”
 
He replied, “What do you make, then?”
 
I shortly responded, “You know, fiction.”
 
He was quiet for a while then said, “Confession, I actually have read some of yours, and mostly I don’t understand.”
 
I smiled, “I consider that as a compliment.”
 
He raised an eyebrow, “Why? I literally said you’re insane.”
 
(Annisa -- June 25, 2016)