Posts

Sebelum Pukul Dua

Image
Tengah malam di belahan bumi bagian Oceania. Aku ingin terlelap, tapi ini belum pukul dua. 
Apakah kamu memuja seni, seperti aku mencintai kata?
Angka dua menjadi rutinitas. Belum bisa sebelum dua. Ah, belum dua, jadi masih bisa. Lima menit lagi pukul dua, aku harus bergesa.
Aku memandang ke luar, memasang telinga dengan seksama. Sepi--tak ada suara kecuali suara malam itu sendiri. Oh, betapa sunyi negeri ini. Aku berdiri selama dua puluh menit di beranda, dan belum kulihat satu pun kendaraan atau pejalan kaki.  Semua yang bangun sudah terlelap. Dua, dua, dua--kenapa kau tak juga di sisi?
Aku mencintai kata, seperti aku memuja seni. Seperti setiap kali aku menatapmu.
Aku terjebak dalam gelembung gram. Ini tengah malam. Setelah beberapa lama aku tersadar, bahwa kebanyakan wanita terbuat dari gula. Lalu kujilat diriku sendiri. Aku terasa seperti kopi di pagi hari. Lalu apakah aku benar-benar wanita? 
Angka dua datang lima belas menit lagi. Baiklah. Lima menit untuk menyelesaikan ini. Lima men…

Timur Jawa

Image
Halo, apa kabar? Timur Jawa baik-baik saja? Ini surat pertama dan terakhir untukmu. Tidak panjang. Aku tidak banyak bicara untukmu. Karena aku dan kamu sudah terlalu tau.

Alasan kenapa aku belum pernah menulis tentangmu, Timur Jawa, adalah karena aku tidak ingin kita berakhir seperti kisah-kisah yang kutulis sebelumnya. Namun garis itu akhirnya bertemu. Kita berada di titik temu itu untuk selanjutnya merintis jalan sendiri. Hari ini adalah penanda. Timur Jawa, selamat berbahagia dengannya.

Kau adalah ombak yang mengalunkan merdu, bintang jatuh di langit malam, dan angin penghembus rindu. Bagiku kau adalah skyscraper yang menjulang. Kau sangsaka hati dan jangkar kapal hidupku--yang tanpamu, aku tidak akan berada di tempat sekarang. Kau adalah inspirasi di segala langkah. Oh, kau juga pernah mengatakannya bukan? Bahwa aku inspirasimu. Tapi maaf, Timur Jawa, aku tidak bisa memberikan segalanya.

Andaikan aku tidak terlalu dingin dan kau sedikit lebih bersabar, aku dan kamu bisa menyusun buku…

Bumi Hujan

Image
Hujan belum berhenti. Hari ini genap sepuluh tahun hujan mengguyur bumi. Aku berdiri menatap samudera tak berujung. Tidak banyak manusia tersisa. Hanya aku dan beberapa lainnya. Kami mampu bertahan karena kami ahli pendakian.

Sepuluh tahun lalu, hujan mulai mengguyur. Kami, para penduduk bumi, berpikir bahwa hari itu seperti hari lainnya; bahwa hujan itu seperti hujan lainnya--yang ‘kan segera berhenti. Namun ternyata ia tak pernah berhenti. Semesta mengalami anomali. Jumlah air di bumi terus bertambah.. tidak lagi tetap seperti yang selama ini dijelaskan oleh sains. Langit menunjukkan perangainya. Awan tidak pernah berhenti meneteskan air mata.



Hujan telah melenyapkan seluruh dataran rendah dan menenggelamkan gunung-gunung. Jutaan manusia tidak bisa bertahan. Mereka yang diangkut kapal kehabisan pangan. Hasil pertanian tidak tersisa; ikan di laut habis dimakan. Mereka yang memutuskan untuk berenang tidak memiliki daratan untuk dituju, lalu begitu saja tenggelam. 

Hanya tersisa dataran-d…

Gadis Layang-Layang

Image
Dia berdiri tegak, empat langkah dari tepi. Gedung seratus dua lantai itu menjulang seakan menembus awan. Gadis itu merasa, dia adalah layang-layang.

Angin mengibaskan rambutnya, mengibaskan roknya yang berwarna jingga, mengibaskan cerita yang dia dekap.. menyerahkan cerita itu pada langit.. pada semesta. Tidak ada lagi rahasia di atas sana. Angin mengisahkan atas nama gadis itu. Bahkan burung-burung pun berusaha mencapai ketinggian ini, untuk sekadar tahu apa yang terjadi. Apa yang akan gadis itu lakukan.. gedung seratus dua lantai itu memahami.

Gadis layang-layang memutuskan untuk melangkah maju.

Langkah pertama. Apabila diibaratkan, gadis itu dapat digolongkan genus Euphorbia. Jenis tumbuhan yang tidak pernah memilih menjadi demikian. Penuh duri, memiliki self-defense cukup tinggi, dan tidak mekar besar berwarna-warni. Siapa yang mau memasukkan Euphorbia dalam buket bunga? Hampir tidak ada.

Langkah kedua. Gadis itu teringat sebuah cerita -- yang dia hubungkan dengan ceritanya sendiri. …

Hanya Sebuah Obrolan

Image
(Sudut pandang Landon)

“Aku ingin berbincang denganmu sore ini. Bercerita tentang hal-hal kecil saja,” ucap Madlyn. Tangannya menggenggam erat tenganku. Sorot matanya meneriakkan sesuatu yang tidak dapat aku artikan, “kumohon duduklah bersamaku di kafe pertama kali kita bertemu. Sungguh ini untuk terakhir kali.”

Aku menatapnya tanpa berkata apapun. Mematung, merasakan kehangatan tangannya pada telapak tanganku yang dingin. 

Pilihanku hanya dua: berkata jujur atau diam. Jujur bahwa tidak ada rasa tertinggal. Bahkan sekadar menghabiskan waktu bersama pun aku enggan. Madlyn adalah seorang wanita luar biasa. Hanya saja, aku tidak bisa.

Aku memilih pilihan kedua. Diam lalu melangkah pergi. Berjalan menjauh setelah perlahan melepas genggamannya. Meninggalkannya di tengah kerumunan para pejalan kaki. Membiarkannya tak punya pilihan selain berdiri sendiri.

Aku sadar sedang menghancurkan hatinya. Padahal yang dia inginkan hanya sebuah obrolan.

Aku tahu dia mencintaiku. Kupikir dulu juga merasakan ha…

Kita di Sebuah Senja

Image
Merdu debur ombak mengalun di telingaku. Sosokmu hadir di depan mataku.. nyata tanpa reka. Kau bercerita tentang gunung dan laut, tentang langit dan bumi.. jelas tanpa retorika. Aku tak jenuh mendengarkan sembari bermain dengan pasir pantai. Senja ini, kita mengungkapkan semua.

Bertahun-tahun yakin tali itu tidak akan bersatu. Aku ingat pertemuan terakhir kita. Kau mengantarku pulang, berdiri di depan pintu, mengirimkan sinyal tak ada harapan, lalu aku menutup pintu, berjanji tidak akan jatuh pada pusaran itu lagi.

Namun, lihat lah sekarang. Kau satu-satunya yang menembus proteksi diriku. Apabila diibaratkan bumi, kau hampir mencapai inti. Apabila diibaratkan angkasa, kau telah dekat dengan perbatasan galaksi. Dengan kata lain, kau mahadaya.

Kemampuanmu memahami kisah hidupku sungguh mengagumkan. Kau terjun dari tebing tinggi, meluncur menuju palung jiwaku yang terdalam. Aku telah menunjukkan semuanya. Ketakutanku, kekhawatiranku, kelemahanku, dan segala sisi burukku. Kau hanya tersenyum…

A Woman

Image
At the age of fourteen, I thought that looking into the eyes of the boy I liked was as easy as putting a love letter into his desk drawer. It took less than thirty seconds for me to take a step closer to him without any hesitancy, then I did it. I did come over his desk and I did look at him in the eyes very deeply that my eyes could have popped out. I could do it. I was dauntless, I was a girl.
Now, it is not as simple as what I did when I was fourteen. I have no idea what the heck is wrong with me. It feels like I have no strength to fight against my anxiety and nervousness. Every time I try to be bold and take the very first action, I get this brunt inside my tummy. Each and every time I push myself towards him, my chest feels like it is going to blow up. My lips cannot open up to say any word. My body literally happens to be very rigid. I myself cannot figure out why.
Him. The guy who is standing by the grey wallpapered wall.
The beat of the party moves him so fast. He dances on the …