Autumn Elm; Part one

Beberapa orang boleh saja menganggap hidup tidak menyenangkan. Mereka tersenyum karena bahagia, bukan bahagia karena tersenyum. Mengeluh sana-sini tentang masalah pribadi, atau lebih tepat, masalah yang disebabkan olehnya sendiri. Berbeda dengan mereka, aku selalu tertawa. Entah dalam keadaan sesedih apapun, aku akan tetap bahagia karena bagiku sebesar apapun beban serta kemuraman yang dilimpahkan padaku merupakan sebuah tantangan. Aku tidak pernah ingin kalah dari kejamnya takdir. Itupun kalau kau percaya takdir, tapi aku percaya. Takdir lah yang membawaku hingga sekarang. Membawaku berdiri tegak. Membawaku mengerti apa itu rasa. Memaksaku dewasa. Mengajarkanku ikhlas. Segala hal yang terjadi dan orang-orang yang memasuki hidupku, pastilah membuat sebuah alur sebab-akibat dan berhubungan satu sama lain. Membuatku belajar. Bila aku tidak bertemu A, mungkin hari ini aku tidak akan mengalami kejadian B. Kalau saja setahun lalu aku tidak bertemu C, pasti aku tidak akan pernah mengenal D. Berantai. Hidup adalah rantai yang tidak berujung dengan lika-liku yang terus bertambah panjang pada tiap porosnya. Maka itulah, untuk apa meratapi rantai ke-tujuhpuluh-lima kalau nanti juga pasti datang rantai tujuhpuluh-enam. Sedih menumpuk. Tidak akan berhenti. Itulah yang kupelajari selama ini.

Minggu ini penghujung musim gugur. Daun-daun pohon sudah sejak lama memulai prosesnya untuk berguguran meninggalkan ranting. Pohon di taman kota dan sepanjang trotoar jalan bak kehausan lalu mati kelaparan, mencoklat, seperti hendak layu namun enggan mati. Burung-burung gereja terbang kesana-kemari. Kesibukan kota menjadi pemandangan biasa bagi mereka para burung yang memandang iri dari ketinggian. Tapi tahun ini berbeda. Kota tidak seperti biasanya, tidak seramai biasanya. Orang-orang lebih memilih berdiam di dalam rumah dari pagi hingga pagi lainnya menjelang. Malas beraktivitas. Musim gugur tahun ini lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Entah pertanda apa, tapi tahun ini berbeda.

Aku menggeliat dibalik selimut di depan perapian apartemenku. Perapian mungil menghadap barat, disamping televisi 21inch, berseberangan dengan dapur. Di atas perapian terdapat beberapa hiasan patung Disney Land yang kubeli di toko pernak-pernak di Amberton Avenue saat pertama datang kesini, kuletakkan pula beberapa foto; foto saat aku memenangkan kontes menyanyi di umur empat tahun, fotoku bersama orangtuaku, fotoku bersama teman-teman semasa SMA di Jogja, dan fotoku bersama seorang ‘sahabat sedari bayi’.

Apartemenku bukanlah apartemen mewah. Hanya sebuah unit apartemen sederhana namun nyaman. Berjarak hanya tiga blok dari kampus. Harga sewanya pun terhitung hemat untuk ukuran apartemen pusat kota. Pemilik gedung apartemen ini adalah seorang janda tua nan ramah, Mrs.Greenwell.

Keheningan meraup-raup telingaku hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri dengan jelas. Hari ini hari Minggu dan aku sama sekali tidak punya rencana kemanapun. Terlebih mengingat betapa dinginnya suhu diluar sana. Yang bisa kulakukan hanya tenggelam dalam kehangatan perapian. Sendirian. Teman-temanku sudah mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Entah apalah pentingnya kegiatan itu. “Mempersiapkan natal butuh tenaga ekstra”, kata Kendra beberapa hari yang lalu. Apalah. Saat menjelang Idhul Fitri tahun kemarin, bukannya mereka membiarkanku tenang dengan ibadahku, justru memaksaku ikut berlibur ke pantai di Barat Florida. Keterlaluan.

Aku meregangkan badanku. Masih ada satu hal yang harus aku lakukan sekarang; membeli pasta gigi. Mau tidak mau, harus kupaksakan tubuhku bergerak dengan begitu malas. Bangkit dari sofa dan menyambut mantel bulu coklat di samping pintu. Mengarahkan kaki menuju Walmart terdekat, sekitar dua blok dari sini. Di tengah cuaca yang begini, jarak dua blok terasa puluhan blok. Aku belum terlalu terbiasa walaupun ini sudah kedua kalinya aku menyambut musim dingin. Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang-layang dari tugas makalah untuk lusa hingga kerja part-time ku yang kini makin terasa membosankan. Aku bekerja sampingan di sebuah studio foto milik anak dari salah satu dosenku. Modalku bekerja hanya keterampilan yang lumayan dengan kamera dan Software pengedit foto.

Di sepanjang trotoar, hanya terlihat segelintir orang saja yang mungkin sama sepertiku terpaksa keluar untuk mengerjakan sesuatu. Ada pula sepasang muda-mudi yang berjalan bergandengan tangan tepat di depanku. Aku tersenyum kecut. Aku iri. Betapa indahnya. Pertanyaan-pertanyaan ganjil mulai melintas di pikiranku. Apakah si pria di depanku ini pernah berbohong dan menghancurkan kepercayaan si wanita pirang pasangannya itu, seperti apa yang Benjamin pernah lakukan kepadaku dulu? Benjamin orang yang tiga bulan lalu masih menjadi orang terpenting dalam hidupku, sebelum...

Langkahku terhenti di depan Walmart. Tulisan-tulisan ucapan selamat natal dan pajangan pohon cemara berhias pernak-pernik bintang emas sudah mentereng di bagian depan supermarket itu. Masih dengan desain yang sama seperti tahun lalu, kurasa, hanya saja tahun ini mereka lebih banyak menambahkan lampu warna merah di sekitar pintu masuk.

Cepat-cepat aku menuju stand pasta gigi dan segera ke kasir, segera pulang dan meringkuk di depan perapian lagi.

 “Stefanie?”

Sebuah suara halus dan ringan memanggilku tepat saat aku akan meninggalkan kasir. Aku sudah bisa menebak dengan tepat kalau itu suara Ashley. Temanku di kelas Filsafat. Bukannya aku tidak suka dengannya, hanya saja melihat tingkahnya yang mengesalkan dan omongannya yang pedas, membuatku enggan berurusan dengannya. Ia terlalu banyak bicara. Aku sering mendengar gosip bahwa ia penggoda pria yang ulung. Banyak pula yang berkata ia hanya lintah yang mengambil keuntungan dari teman-temannya. Namun aku tetap bersikap biasa saja, toh aku tidak punya masalah dengannya. Lain cerita bila bertemu dengannya di situasi seperti ini. Ia tidak akan berhenti mengoceh sampai Walmart tutup, hingga aku mati kedinginan, beku. Dengan enggan aku berbalik dan benar saja kudapati Ashley dengan setelan ketat warna putihnya menghampiriku. “Hey, Ashy!” balasku.

“Kau membeli apa? Sudah sengar kabar dari Bill kalau kelas Filsafat kita diganti hari Selasa?” Celotehnya.

“Iya, aku sudah tahu.” Jawabku seadanya.

“Oooh kau membeli pasta gigi.” Cetusnya menjawab pertanyaan yang kuabaikan tadi. “Aku sedang berbelanja bahan makanan. Ibuku akan masak besar. Anyway, bagaimana persiapan natalmu?”

“Aku tidak merayakan natal.”

“Oh ya, kenapa?” Tanyanya sambil mengangkat alis.

Aku paling benci pertanyaan semacam ini. Pertanyaan yang menyangkut agama. Aku hanya membalas dengan senyuman, lalu hendak berlalu keluar pintu sebelum Ashley mengucapkan satu kalimat yang membuatku tersentak.

“Kemarin aku makan malam dengan Benjamin di Johna’s Cafe. Oh tenang, kami bersama teman-teman. Aku tidak mungkin berkencan dengan mantan kekasih temanku sendiri kan?” Ia langsung memperbaiki kalimatnya ketika menyadari raut wajahku berubah merah. “Dia membahasmu kemarin. Dia terus mencoba mengubungimu tapi kau ganti nomor.”

Senyum lebar kupasang pada wajahku. Oh, girl. I don’t care.

“Aku sedang buru-buru. Sampai jumpa besok Selasa, Ashy!” Kataku sambil lalu dengan wajah ceria yang kubuat-buat. Aku tidak ingin mendengar hal-hal tentang Benjamin, tidak sekarang.

“Katanya itu bukan dia. Yang waktu itu.. bukan dia.” Suaranya masih menahanku.

Aku memandangnya datar, berusaha merangkai kata untuk menjawab agar aku tidak terlihat menyedihkan. Suaraku terdengar serak. “Katakan saja dia hanya masa lalu bagiku sekarang. Apapun pembelaannya.”

Sebelum Ashley sempat menjawab, aku sudah berjalan menjauh, cukup jauh. Kudengar langkah kakiknya yang juga berjalan pergi. Fiuh.. Aku bisa lepas darinya akhirnya, dan sekarang tugasku hanya tinggal menyusuri dua blok untuk segera menikmati hangatnya perapian.

Bentuk bangunan apartemenku sudah bisa terlihat dari trotoar aku berjalan sekarang. Bangunan dengan cat merah. Lampu-lampu natal dipasang Mrs.Greenwell di sekitar pintu depan. Aku memercepat langkah, hingga tidak terasa sudah berada tepat di depan pintu apartemen. Satu-satunya pintu tanpa hiasan lampu. Aku mengorek satu persatu kantung celana untuk mencari kunci. Setelah dengan susah payah mencari dan berhasil membuka pintu, aku langsung meringsut di atas sofa depan perapian lagi tanpa basa-basi. Melempar pasta gigi yang baru saja kubeli hingga terpental entah kemana.

Betapa nyamannya hanya bermalas-malasan seperti ini. Akhir-akhir ini aku sudah jarang merasakan kenyamanan dan hari santai. Sejak tiga minggu yang lalu aku disibukkan oleh tugas kuliah yang menumpuk. Namun hari ini aku bebas.

Aku sempat terlelap beberapa menit, tenggelam dalam mimpi sederhanaku, sebelum bel pintu berbunyi. Diluar dugaan. Siapa pula yang bertamu di sore yang sedingin ini. Aku bergegas membebaskan diri dari lingkupan selimut tebal dan setengah berlari menuju pintu. Hampir saja aku menendang gelas kopi di atas lantai sebelah sofa.

Tanpa melihat ke lubang pintu untuk melihat siapa yang datang, aku langsung membuka tanpa basa-basi. Excited karena mungkin aku akan mendapatkan temen-duduk-di-perapian.

Oh my goodness, Linggar?!! Is that you?” teriakku dengan mata terbelalak seperti hendak meloncat lepas. Terkejut setengah mati. Pria tinggi tegap dengan potongan rambut ala Tom Cruise di film Mission Impossible yang berdiri tepat di depanku hanya tersenyum lebar memerkan gigi-gigi putihnya yang rapi. Aku langsung memeluknya dan menariknya masuk ke dalam apartemen. Masih. Ia masih belum mengatakan apapun. Hanya senyum yang paling kukenal itulah yang ia berikan padaku. “Kapan kamu kesini, Nggar? Kenapa ngga bilang, huh? Jahat banget!”
               
 Ia akhirnya menjawab. “Surprise!” Hanya itu.

Aku mengambil pakaian yang berserakan di atas sofa, menyibakkan selimut di depan perapian dan melipatnya. “Kamu harusnya bilang dulu kalau mau dateng. Bisa aku jemput di bandara. Kamu kan belum pernah kesini, kamu pasti ngga tahu jalan. Gimana caranya nemuin apartemenku? Emang kamu ngga bingung? Di luar cuaca lagi dingin banget. Kalau kamu mau dateng, harusnya pas musim dingin aja sekalian. Dapet dinginnya, dapet saljunya. Bentar, bentar. Aku ngrapihin apartemen dulu, ya. Berantakan banget nih aku malu. Harusnya kamu bilang biar aku bisa belanja makanan dulu. Lemari esku kosong ngga ada..” Linggar langsung mendekapku dalam pelukannya. Tanpa berbicara lagi. Pelukan kedua sejak semenit lalu. Pelukan rindu. Aku langsung terdiam dan tersenyum tipis. Menggapai tangannya dan melepaskan pelukan, memaksanya duduk di sofa yang sekarang terlihat jauh lebih rapi.

“Tetep ya ngga berubah. Nrocos mulu. Ngomong satu kata dibales ribuan.” Tawanya akhirnya. Aku bisa melihat kumis tipis di atas bibirnya. Seperti bukan seperti ia yang biasa. Mungkin ia hanya lupa bercukur karena terlalu sibuk. Kesibukan memang menjadi label utamanya. Kuliah sambil usaha.

“Kamu sih tiba-tiba aja.” Jawabku singkat sambil memanyunkan bibir.

Ia semakin terbahak. “Ya maaf, kan udah dibilang surprise. Pengen aja ketemu kamu, Stef.”

“Jauh-jauh nyampe sini?”

“Yup.” Ia memberikan senyumannya lagi. Senyuman termanisnya.

Aku senang bisa melihatnya lagi. Satu tahun lalu saat terakhir aku bertemu dengannya. Mengingat berapa lama kami saling kenal, kekikukan tidak akan menang walaupun berapa lama pun tidak berbicara langsung seperti ini. Kami tidak kikuk satu sama lain. Tidak. Kami masih sama. Namun kali ini ada yang berbeda dibalik senyum dan tawa Linggar. Ia memang tipe orang pendiam dan tidak banyak berbicara, tapi kali ini ia lebih diam dari biasanya. Jauh lebih diam. Ada sesuatu hal aneh yang terpancar dari sorot matanya. Aku belum menyadarinya, atau ia memang belum mengatakan mengapa.

“Aku bikinin kopi panas dulu ya. Atau mau coklat aja? Atau kopi coklat?”

“Kopi coklat sounds yummy.” Sahutnya.

Aku di dapur beberapa saat. Sangat cepat membuat kopi coklat panas, karena ini kopi coklat instan, terang saja. Dari dapur, aku bisa melihatnya berjalan mendekati perapian. Menghangatkan diri. Ia memang terlihat menggigil dan bodohnya aku tidak memberikan selimut untuknya daritadi. Aku terlalu senang melihatnya di depan pintu apartemenku. Ia tidak pernah ke luar negeri sebelumnya. Bahasa Inggrisnya pun belum terlalu lancar, tapi sudah cukup bisa berkomunikasi. Dan ia sekarang disini, datang untukku.

“Ini kopi coklatnya, prince. Gimana usaha clothing-mu di Jogja? Lancar?”  Cetusku sebagai basa-basi menanyakan kabar. Aku mengambil selimut yang tadi aku pakai dan kusodorkan padanya. Ia kembali duduk di sofa dengan mengenggam cangkir panas di tangan. Tanpa kusadari ia memberi bagian selimut untukku. Kami menikmati hangatnya perapian bersama, berdampingan, di musim menjelang salju.

“Lancar, kok. Ngga nanyain kuliahku?” Senyumnya jahil.

“Ngga usah tanya juga aku ngerti kok, Nggar. Kamu kan pinter. Kuliah sih mau digimanain ya lancar-l
ancar aja. Ya, to?

“Eh, emang siapa yang kuliah di Amerika? Yang pinter siapa juga.. aku apa kamu?”

Kami langsung berbagi tawa. Berbagi canda. Banyak hal yang perlu aku bahas dengannya. Banyak cerita terpendam yang harus aku bagi dengannya. Ia pendengar yang sangat baik. Tidak pernah menghakimi, hanya mendengar dan memberikan tanggapan seperlunya, terkadang juga memberi nasihat kalau diminta.

Aku dan Linggar jauh berbeda. Aku tipe yang banyak omong, bercanda, ramai terhadap orang-orang yang aku kenal dekat. Namun Linggar lebih banyak diam, dimanapun, terhadap siapapun. Lebih banyak mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ketahui dengan jawaban yang ia cari tahu sendiri. Aku selalu mengerti itu. Walaupun ia tidak mengatakan apapun, aku sudah bisa membaca dari sorot mata dan senyumnya. Walaupun sudah lama tidak bertemu pun, cara kami mengungkapkan rindu memang tidak berlebihan. Kami mengungkapkannya dengan cara kami sendiri, dengan berbeda.

“Kopi coklatnya enak.” Komentarnya sambil memandangi cangkir.

“Iya dong, kan aku yang bikin.” Jawabku bangga.

Senyum jahil kembali tersungging di wajahnya. “Instan ya?” Aku tersentak. Oh, boy, dia tahu.

“Kamu tahu aja, Nggar.” Aku tersipu malu, sambil tertawa.

“Itu foto waktu SMP kan?” Ia menunjuk sebuah foto dengan bingkai coklat dia atas perapian. Fotoku dengan ‘sahabat sedari bayi’. “Kamu bawa sampe sini? Ih itu aku lagi culun banget.”

“Lucu kan tapi? Inget ngga foto itu diambil pas ulang tahunmu yang ke-14? Aku masih inget banget.” Aku menerawang sejenak. Mengingat masa kecil kami.

Sure. Waktu itu kamu ngerjain aku pake sambel yang dimasukin ke dompeku kan, Stef? Nyampe duit sepuluh ribuanku ngga laku lagi buat beli bakso. Terus adikmu naik sepeda ke depan rumahku, teriak-teriak minta tolong buat benerin tali sepatu. Tetangga satu komplek bisa denger suara jeritan dia. Dan.. waktu itu.. masih ada..”

Suaranya tersendat. Aku langsung menoleh dan melihat air wajahnya yang berubah.

“Linggar, past is past. You don’t have to forget, you just have to move on.”

Hanya itu kata menghibur yang bisa kulontarkan. Aku selalu berhati-hati kalau berbicara menyangkut masalah sensitif orang lain, takut salah berbicara. Linggar menggerakkan tubuhnya, menggeser letak duduknya, tanda ia tidak nyaman membahas hal ini. Ia tidak ingin mengungkit masa lalu.

“Ah, udahlah. Jadi, aku tidur dimana?” Ia mengalihkan arah pembicaraan sambil menunjuk koper besar di depan pintu yang tidak aku tahu bagaimana caranya berada di sana. Aku tidak melihat Linggar menyeret koper tadi. Atau mungkin aku hanya tidak terlalu memerhatikan.

“Kamu tidur di kamarku aja. Biar aku disini.”

No. Kamu di kamar, aku disini.”

No. Kamu kan tamu. Kamu di kamar.”

No. Aku bukan tamu, aku Linggar.”

 “Yes, you are Linggar and you’re a guest alsoThere, you’ll sleep in the room.”

No.”

Yessss.”

“Hmm.” Linggar menggelengkan kepalanya.

Please.”

“Suit.”

 “Hah?”

“Suit, yang menang yang tidur di kamar.”

Okay, fineBe ready to win, Linggar.”

Dan aku lah yang menang. Linggar jari kelingking. Aku jari telunjuk. Senyum kekalahan yang cerah tersungging di wajahnya. Aku mendesah sebal.

“Mau berapa lama kamu disini, Nggar?”

“Belum tahu juga.”

“Terus kuliah sama usahamu di Jogja gimana?”

“Itu masalah gampang.”

Linggar menyeret kopernya ke samping sofa dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia pasti lelah seharian di pesawat. Belum lagi ia harus mengatasi jetlag untuk pertama kali. Banyak hal yang harus aku siapkan untuk membuatnya nyaman selama tinggal disini. Sadar atau tidak sadar, aku sangat peduli padanya. Sahabatku sedari bayi. Aku mengenalnya karena orangtua kami saling kenal. Orangtua kami bersahabat dan bahkan dulu mereka hampir setiap hari berkumpul bersama. Berbagi cerita tentang suka-duka rumah tangga, tentang masalah di tempat kerja, tentang resep masakan terbaru, hingga tentang cara membersihkan toilet. Sejak bayi kami sudah bermain bersama. Tumbuh bersama. Walaupun rumah kami berjauhan, kami masih sangat sering bertemu. Terkadang orangtuaku menitipkanku pada orangtua Linggar, dan juga sebaliknya. Sejak bayi kami sudah saling berbagi. Berbagi makanan, berbagi pakaian, berbagi peralatan. Kami saling mengisi.

Dari TK hingga SMA kami bersekolah di tempat yang sama. Saat SMP, aku diterima di sebuah sekolah Negeri, namun Linggar lebih memilih sekolah swasta dan tidak mendaftar sekolah Negeri sama sekali. Saat itulah aku merajuk dan menolak untuk makan dua hari dua malam agar bisa pindah ke sekolah Linggar, dan aku berhasil. Orangtuaku terpaksa memaklumi hubungan kami yang layaknya saudara karena mereka sendirilah penyebab kedekatan kami.

Di saat kapanpun, Linggar selalu ada untukku. Saat aku sedih. Saat aku senang. Saat aku bimbang. Ia selalu disana untuk mendengarkan segala keluh kesahku. Namun kadang aku merasa bersalah karena aku tidak bisa melakukan hal yang sama padanya. Aku orang yang terlalu kurang peka. Kadang aku tidak akan ada saat Linggar mengharapkanku, karena aku tidak bisa memahami tanda-tanda yang ia berikan.

Pernah aku membiarkannya menunggu di rumahku hingga malam, sedangkan aku pergi bersama teman-teman sekelas ke tempat karaoke. Linggar menungguku sendirian hingga larut malam. Padahal ia hanya ingin bercerita dan melepaskan bebannya. Saat itu ia sedang sangat down karena tidak berhasil memenangkan sebuah lomba Sains. Ia ingin  bercerita padaku, memintaku menghiburnya. Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu. Ia hanya mengatakan “Besok sore, ya.” pada pagi hari sebelumnya di depan kelasku tepat sesaat setelah bel masuk berbunyi. Saat itu, aku belum bisa mengartikannya.

Dulu aku memang masih belum mengerti cara berkomunikasinya. Lama-kelamaan, aku mengerti. Senyumannya. Pandangan matanya. Gerak tubuhnya. Aku selalu berusaha keras mengartikan semua itu agar aku  bisa memahaminya. Saat aku mulai paham dengan segala hal tentangnya, saat itulah aku harus terbang ke Amerika untuk melanjutkan studi. Aku dengan berat hati meninggalkan ‘sahabat sedari bayi’ yang sangat kubutuhkan dan membutuhkanku. Kini, semakin jarang lagi aku berada di sampingnya untuk menenangkannya. Aku bukan sahabat yang baik.

"Jalan-jalan, yuk.” Seru Linggar membuyarkan lamunanku. Rambutnya yang basah terlihat sangat lepek, ditambah wajahnya yang terlihat lelah.

“Kamu ngga istirahat dulu, Nggar? Kamu pasti cape.”

“Siapa bilang aku cape? Ini masih jam empat sore masa mau tidur-tiduran aja.”

“Tapi, dingin.”

“Hmmmm.” Ia berdeham panjang.

“Oke, oke. Ayo jalan-jalan kemana?”

“Biasanya kamu kemana? Tempat favoritmu?” Tanyanya balik.

“Umm.. Kalo dingin-dingin gini ke kafe di Peane Avenue pasti asik deh, Nggar.”

“Yaudah kesana, yuk.” Linggar menarik tanganku dan menyodorkan Mantel dengan senyum lebar mengembang. Sepertinya ia benar-benar excited untuk berjalan-jalan di kota Florida. Aku mengikutinya keluar apartemen dan langsung mengunci pintu. Kami berjalan berdampingan. Linggar masih banyak berkomunikasi dengan senyumnya. Senyum yang bisa membuat gadis manapun tunduk padanya. Tiba-tiba di lorong menuju lift, ia berbalik padaku, memandangku lekat dengan pandangan yang tidak aku kenal dan berkata,

“Aku pernah cerita tentang Sanny belum, Stef?”

“Sanny? Sanny siapa?” Aku keheranan.

“Sanny pacarku.”

“What, pacar? Kenapa ngga pernah cerita sih, Nggar? Ada Email, ada Facebook, ada Twitter buat apa kalo bukan untuk kasih kabar. Jahatnya kamu berlipat-lipat banget deh, jahat!!!”

“Kan, surprise.” Jawabnya singkat.

Lagi, aku melewatkan satu hal yang tidak mampu aku baca sebelumnya. Tentang Linggar dan kisah cintanya. Ia bukan orang yang mudah memulai hubungan, tapi kalau ia sudah mencintai wanita, akan berlangsung selamanya. Paling tidak, itulah yang bisa aku simpulkan sejauh ini. Dan sejauh ini pula kusimpulkan, Sanny adalah wanita beruntung. Linggar adalah tipe pria idaman, tidak banyak bicara, langsung bertindak. Ia juga pria yang sangat perhatian. Walaupun perhatiannya itu diungkapkan dengan caranya sendiri. Sanny benar-benar beruntung.

Aku terpaksa harus menyusur blok demi blok lagi dan melawan rasa malasku. Hawa dingin benar-benar membuatku mati rasa. Namun Linggar entah kenapa terlihat biasa saja, tidak banyak mengeluh tentang cuaca padahal ini pertama kalinya baginya ditengah suhu minimum seperti ini. Aku sedari tadi terus memandanginya sambil senyam-senyum. Memandangi wajahnya bagian kanan. Memandangi lekuk-lekuk hidung dan matanya. Rindu padanya. Kami berjalan berdampingan dengan bergandengan tangan, sama seperti pasangan yang berjalan di depanku di perjalanan ke Walmart tadi. Berbeda, kami bukan pasangan. Kami sahabat.

Di lain sisi, aku mencoba mengartikan pandangan sedih yang masih menggantung di mata Linggar. Aku masih menebak-nebak. Apakah ia kesini untuk lari dari sesuatu? Entahlah. Cepat atau lambat, ia pasti menceritakannya padaku.

Linggar sudah mulai banyak bicara dan aku saat ini terbahak karena candaan dan cerita ngawurnya tentang asal-usul salju. Kami tertawa bersama, bahagia bersama di pertemuan pertama kami setelah sekian lama, hingga mungkin membuat iri orang-orang yang melihat. Aku bahagia melihat Linggar tertawa. Sungguh bahagia aku bisa bertemu dengannya, ia yang menghampiriku kesini jauh-jauh. Satu hal yang tidak aku tahu dan tidak dapat aku artikan bahwa sore ini, di penghujung Musim Gugur tahun keduaku di Florida, kisah hidup dan rantai takdir telah dimulai. Aku akan harus mengartikan banyak hal.