26:56

Untuk entah yang keberapa kalinya, aku dan teman-teman makan malam di sebuah rumah makan favorit kami di sekitaran kampus. Aku menyantap masakan seafood sambil sesekali terbahak-bahak oleh lelucon yang dilontarkan teman-temanku. Mereka masih saja membahas tentang breaking-up season dan saling mengolok-olok satu sama lain. Aku mengerti, aku pun merasakannya. Namun bedanya aku bukan break-up melainkan stranded. Beberapa hari terakhir ini aku masih berotasi pada kebimbangan hati dan kesakitan yang sama, tapi sudahlah aku sudah terbiasa. Hmmm, di malam penuh kegalauan dengan ditemani candaan dan sepiring masakan seafood, aku melihat hal yang semakin membuatku semakin galau. Mataku menatap lurus pada meja di depanku. Seorang pria dengan kaos hitam, dan wanita berhijab merah muda sedang tertawa berdua. Mungkin karena candaan salah satu dari mereka yang terlalu lucu, atau mereka hanya sedang dimabuk cinta -sehingga apapun bisa membuat mereka tertawa.

Pernah menonton film A Moment to Remember pada adegan menit ke 26:56? Ketika Choi Chul-soo dan Kim Su-jin saling tertawa mesra, dengan jarak wajah mereka hanya sekitar 3 cm, di atas trotoar jalan di tengah hiruk pikuk pejalan kaki yang memandang iri. Itulah yang baru saja kulihat. Anggap saja pasangan yang sedang kupandangi ini adalah Chul-soo dan Su-jin dan aku mewakili para pejalan kaki. Aku hanya diam dan memperhatikan si kaos hitam dan hijab merah muda itu selama kurang lebih lima belas menit. Pada tenggang waktu itulah aku melihat mereka saling bercanda dan tersenyum riang, penuh cinta, tanpa jeda. Walaupun sekali meraih ponsel masing-masing, beberapa detik selanjutnya salah satu dari mereka akan memulai lagi topik pembicaraan yang sepertinya sangat menarik dan tertawa bahagia lagi.

Bisa kau bayangkan? Disaat kau sedang gamang oleh hatimu, lalu kau melihat kemesraan dua anak manusia yang seperti itu? Rasanya seperti di dalam film-film romantis. Maksudku, mereka berdua yang romantis dan aku hanya penonton. Aku, dengan sok tahu, mereka-reka pasangan itu. Kira-kira apakah mereka pasangan baru yang masih dimabuk cinta? Kurasa, tentu saja. Minggu-minggu awal hubungan adalah momen-momen terbaik dimana kau bisa selalu bahagia karena cinta. Namun kebahagian di bulan-bulan selanjutnya tergantung keadaan. Banyak hal tidak terduga yang akan terjadi di masa mendatang, bukan? Semuanya punya masa. Kita dipertemukan dengan seseorang dan kelanjutannya kita yang menentukan.

Mengutip perkataan Raditya Dika, hati itu seperti rumah. Disaat penghuni rumah mulai tumbuh, rumah yang lama -yang terlalu kecil- pasti tidak akan terasa nyaman lagi. Maka dari itu penghuni rumah tersebut mau tidak mau harus pindah untuk menempati rumah yang lebih besar. Begitu pula hati, hal yang sama pun berlaku.

Kembali pada si kaos hitam dan hijab merah muda yang tidak juga sadar sedang kuamati. Pasangan itu masih saja saling bercanda ria dengan sesekali saling cubit dan senggol-menyenggol. Apakah aku iri? Tentu saja. Tapi toh, bukankah aku hanya melihat dan mengenal  mereka selama lima belas menit. Aku tidak pernah dan tidak akan tahu menit-menit selanjutnya. Entah apakah mereka masih akan sebahagia itu. Meskipun begitu, mereka adalah suatu bukti yang semakin membuatku percaya bahwa cinta memang benar-benar ada, bahwa cinta memang membuat hati begitu berbunga-bunga pada awalnya.