Kerumitan

Pernahkah kau merasa seperti seseorang yang paling tertinggal padahal kau sudah mengendarai mobilmu dengan kecepatan penuh? Seperti tidak ada habisnya lagi orang-orang yang berkendara di depanmu. Atau, pernahkah kau merasa seperti telah berlari dengan kakimu sekencang-kencangnya --sangat kencang-- ke arah ujung jalan yang kau inginkan, lalu kau meraih hal-hal hebat yang bahkan tidak kau rencanakan tapi bukannya puas, kepercayaanmu justru semakin berkurang, berkurang, berkurang, dan seperti tidak ada apa-apanya lagi. Karena semakin kau menempuh jalan itu, semakin kau melihat ujung jalannya, semakin kau sadar bahwa tempat itu sangat jauh dari jangkauan. Kau tahu dan dengan sadar mengatakan bahwa kau bisa, kau tidak akan menyerah, tapi tetap saja kepercayaan itu menghilang. Kepercayaan yang dulu kau punya, yang dulu sangat mendalam, tidak lagi kau rasa getarannya. Seperti kau sudah kebal. Selain itu, ketakutan-ketakutanmu yang dulu kau miliki, tak lagi kau takuti. Seperti kau melanggar batasan-batasanmu sendiri dan kau tidak merasa bersalah dengan hal itu. Lalu kau menghibur dirimu sendiri dengan mengatakan bahwa semakin kau tidak takut pada apapun, semakin kau bertambah dewasa, semakin kau berkembang. Bahwa ketakutan-ketakutanmu dulu hanya refleksi kekanakanmu. Kau berlari kencang dengan keberanianmu yang luar biasa, tapi justru kau bingung sendiri dengan apa yang kau lakukan. Kau bertanya-tanya, apakah ini benar-benar dirimu yang melakukan ini semua? Kau terus dan terus bertanya pada dirimu sendiri sehingga kau memperlambat langkahmu dan mencoba menikmati hembusan nafasmu, sementara berpikir tentang banyak hal --banyak sekali. Salah satunya adalah berpikir tentang bagaimana membuat dirimu sendiri cukup untuk orang lain. Berusaha keras untuk menjadi apa yang mereka inginkan, namun semakin kau berusaha untuk menjadi itu, semakin kau bingung. Kau bertanya-tanya apa yang kurang dari dirimu sekarang, kau sudah berusaha dengan sangat baik namun masih saja terasa kurang. Sehingga kau memberontak, memulai berbuat hal-hal gila, dan menjauh dari menjadi baik. Kau dengan senang hati mendorong dirimu dari karakter baik itu agar kau kehilangan harapan, karena bila kau tidak punya harapan, kau tidak akan tersakiti oleh harapan kosong. Di dalam larimu yang melambat itu, kau juga berpikir tentang hal-hal yang seharusnya tidak kau lakukan dan seharusnya kau lakukan. Hal-hal yang membuat orang lain kecewa. Rasa sakit yang orang lain rasakan yang juga kau rasakan. .... Ah, pada akhirnya kau sadar kau terlalu banyak berpikir dan kau sadar kau sedang melambat dalam larimu, bahkan hampir berhenti. Sehingga kau mempercepat larimu lagi dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Agar kau tidak punya waktu untuk berpikir tentang apapun lagi dan lalu melawan ambiguitasmu sendiri. Pernahkah kau merasakan hal-hal rumit seperti ini? Tentang mengenali dirimu jauh lebih dalam dari apapun, bereksperimen pada tingkahmu, berbuat hal-hal gila untuk membuat dirimu bahagia? Berlari, berhenti, tertawa, menangis, berpikir, berpikir, dan berpikir? Hmmm aku pernah, dan bagiku, kerumitan ini terasa sangat menyenangkan.