Ursula : Lelucon Soda

Kelas linguistik yang hanya satu setengah jam kali ini rasanya berlangsung sangat lama. Entah sudah berapa kali Ursula menguap karena menahan kantuk luar biasa. Semalam —atau lebih tepat disebut tadi pagi— ia hanya tidur dua jam karena menonton serial televisi favoritnya yang ditayangkan maraton di Fox Premium Channel di sela-sela waktu sibuknya mengerjakan tugas kuliah. Ditambah sekarang ia bekerja part time sebagai fotografer dan desainer freelance sehingga waktu tidurnya semakin berkurang. Pukul empat pagi ia baru mampu beranjak dari depan televisi, menggerakkan kakinya menghampiri tempat tidur dan langsung terlelap seperti bayi. Dan pukul tujuh ia sudah harus berada di kampus untuk menghadiri rapat komunitas fotografi yang sengaja diadakan sangat pagi-pagi, agar menciptakan tantangan baru kata Dillon, si ketua perkumpulan. Lalu setelahnya, ia punya jadwal tiga kelas. Pukul empat pun ia seharusnya bertemu dengan klien yang meminta jasanya men-desain Yearbook sebuah High School pinggiran kota. Syukurlah kliennya tiba-tiba membatalkan pertemuan itu karena suatu alasan. Paling tidak jadwalnya hari ini sedikit berkurang, sedikit.

Ursula mengutuk diri sendiri karena terjaga untuk menonton serial televisi yang bisa diunduhnya dari internet. Ia juga mengutuk dirinya sendiri karena masih mengantuk walaupun sudah menenggak dua gelas black coffee. Saat ini ia merasa bisa langsung tidur di kursi yang sedang didukinya, dengan kepala terantuk-antuk, dengan teman-teman satu kelas yang tidak terlalu dikenalnya memandanginya tertidur lucu, lalu memotretnya dan mengunggah ke jejaring sosial. Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Ia tidak boleh tertidur di kelas. Ia tidak boleh.... “Oh Gosh!” Ia terlonjak sendiri menyadari dirinya tertidur seperdetik yang lalu. Tertidur beberapa saat yang sangat sebentar sebelum otaknya mengirim sinyal bagi tubuhnya untuk bangun, si otak tahu Ursula tidak boleh tertidur.

Hari ini banyak yang harus Ursula lakukan. Para anggota Taylo Photography Club of Yale University, atau yang lebih singkat hanya disebut Taylo, menunjuknya menjadi penanggung jawab sesi pemotretan khusus hari Halloween. Geez, Halloween is two days away! Why the heck didn’t you tell me earlier?! Serunya dalam hati saat rapat. Walaupun begitu, ia tetap bersedia menerima tanggung jawab itu.

Mungkin bagi beberapa orang, hal ini terdengar mudah. Hanya bermodal kamera dan berbagai persediaan lensa untuk datang memotret di pesta Halloween sambil mengikuti kemeriahan pesta. Datangnya pun dengan memakai kostum lucu. Memotret sana-sini. Mencari gambar bagus untuk bahan fortofolio pameran akhir tahun nanti, sambil bercanda dengan para kenalan, menari diatas lantai dansa, bersenang-bersenang, minum beberapa gelas wine yang diantar diatas nampan oleh para muda-mudi yang terpaksa menelan bulat-bulat keinginannya untuk berpesta karena alasan ekonomi.

Namun, bagi Ursula, ini tidak se-simple kelihatannya karena terpaksa ia harus membatalkan banyak janji.. Ia sudah berjanji pada Stacy, sahabatnya, untuk datang di pesta ulang tahunnya yang bertepatan dengan pesta Halloween. Dari awal, ia memang sudah tidak berniat datang ke pesta Universitas. Malas, pikirnya. Jadi ia lebih memilih pesta sahabatnya daripada hura-hura kampus.

Sebelum datang ke kelas linguistik ini, ia sempat menelpon Stacy dan memohon-mohon untuk memaafkannya karena ia terpaksa mangkir dari pestanya lagi tahun ini. Menelepon teman-temannya yang lain, berusaha meminta bantuan membujuk Stacy yang memang dasarnya keras kepala. Tahun lalu Ursula memang tidak datang ke pesta ulang tahun Stacy karena ia sedang berada di New Hampshire untuk menghadiri acara pembukaan cabang perusahaan furnitur ayahnya yang baru dibuka.

Akhirnya Stacy tersentuh juga setelah Ursula mengucapkan kata-kata pamungkasnya, “Ayolah, maafkan aku. Kalau kau marah padaku, kau tidak akan mendapat kadomu. Kau tentu tidak mau itu terjadi kan?” Stacy pun luluh karenanya. Ia selalu dibutakan oleh kado tiap tahunnya. Kado adalah hal terindah di dunia, saat kau menerima kado, kau mendapatkan barang-barang baru tanpa repot membeli dengan uangmu, katanya.

Belum. Persoalan belum selesai.

Ursula juga sudah ada janji dengan Chester, pria yang sudah dipacarinya selama lebih dari tiga tahun. Mereka berdua berjanji untuk mengumumkan sebuah berita penting di pesta ulang tahun Stacy. Mengumumkannya hanya pada orang-orang yang hanya ada di pesta itu. Kalau ia berpindah pesta di pesta Halloween kampus, pendengar-pendengarnya pun sudah pasti ganti orang dan sudah pasti pula rencana tersebut batal.

Lamunannya terbuyarkan oleh suara Profesor Towner yang dengan suara beratnya mengakhiri kelas. Akhirnya. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ugh.. ia baru sadar belum makan sedari pagi. Pantas saja perutnya memberontak sana-sini karena seharian hanya diisi segelas susu pemberian Dillon tadi pagi. Semua jadwal kelas hari ini sudah berakhir. Baru disadarinya ia bebas dari segala kesibukan di sore hari, biasanya saat malam tiba ia baru bisa bernafas lega. Hari ini ia bisa bernafas dengan lebih lega.

Kafetaria kampus sangat ramai, dan entah mengapa Ursula merasa perlu bergegas ke counter makanan sebelum ia tidak kebagian makanan gratis yang disediakan kampus. Biasanya sampai malam pun makanan gratis yang tidak terlalu lezat itu tidak semuanya habis, tapi hari ini berbeda. Mungkin hampir semua orang di kampus sedang kehabisan uang saku sehingga mau tidak mau makan di kafetaria –yang juga sama halnya dengan Ursula.

Gadis berbadan kurus dan berambut coklat itu mengambil tempat duduk di sisi kanan kafetaria yang tidak jauh dari pintu utama. Dengan lahap ia memakan makanan pertamanya untuk hari ini sambil sesekali membalas pesan singkat dari Chester. Ia terlonjak kaget saat seseorang menepuk punggungnya.

“Halo, cupcake. Kau sedang apa?” Daniel menyapanya dengan senyuman yang sangat lebar hingga sepertinya semua giginya hampir meloncat keluar. Ursula memandangnya dengan pandangan penuh curiga. Ia sudah mengenal Daniel semenjak sekolah dasar, yang entah kenapa mereka selalu satu sekolah. Selama ini pemuda bertubuh kekar ini senang sekali menganggunya dan sering membuatnya menjadi bahan lelucon. Setiap kali ia bertemu dengan Daniel, ia secara tidak sadar memasang benteng pertahanan terhadap segala gerak-geriknya.

“Bola matamu ketinggalan di kamarmu ya? Tidak lihat aku sedang makan?”

“Kau sedang makan apa memangnya, cupcake?” Jawab Daniel sambil menarik sebuah kursi, meletakkannya di sebelah gadis itu lalu mendudukinya.

Ursula memperlebar matanya dan memanyunkan bibir. “Firstly, namaku bukan cupcake. Secondly, kau mau cari masalah lagi denganku hari ini? Minggir sana, menganggu kenikmatan makan soreku saja.” Ia mendorong bahu Daniel, lalu kembali melahap makanannya tak acuh.

“Kau terlihat sangat manis saat cemberut. Wajah Asiamu lebih terlihat alami.” Pemuda berambut cokelat itu mencondongkan wajahnya pada wajah Ursula sambil menggerakkan tangannya untuk memberikan efek sarkastik. Jarak wajah mereka berdua hanya sekitar sepuluh senti sekarang. Ursula langsung menghentikan kunyahannya. Mata sipitnya semakin melebar karena kesal. Daniel kembali tersenyum tengil lalu mengalihkan pembicaraan.

“Kulihat kau duduk sendirian tadi, jadi kupikir lebih baik bertindak sopan dan menemanimu.”

Correct me if I’m wrong. Saat ini kau sedang bertindak tidak sopan Karena mengganggu orang tanpa ijin. Kenapa kau senang sekali mengangguku?!” Ursula berbicara dengan nada tinggi sambil menelan makanan di mulutnya dengan susah payah.

Correct me if I’m wrong. Kupikir tidak perlu meminta ijin jika kau ingin mengganggu orang.” Balas Daniel yang makin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis di depannya itu.

I’ll correct you because you were wrong. Kalau kau tidak minta ijin artinya kau tidak sopan. Dasar tidak sopan!” Ursula mendorong Daniel menjauh. Ia menyodorkan garpu yang dipegangnya ke arah Daniel sebagai tindakan mengancam.

Daniel tertawa melihat tingkah Ursula. “Aku selalu suka saat kita berdebat seperti ini.”

“Berdebat tentang hal yang tidak penting.” Tambah Ursula.

“Yup, berdebat tentang hal yang penting.” Balas Daniel.

“Yang tidak penting.” Ursula menekankan perkataannya kali ini.

“Terserahlah, cupcake.” Daniel menyandarkan punggungnya ke kursi dan berdeham. “Tadi pagi aku mampir ke toko kue favoritmu di ujung jalan sana. Apa namanya…”

“Cupcake Shop.” Balas Ursula dengan nada datar.

“Yaaa. Ah, ternyata nama tokonya sama dengan namamu. Kebetulan sekali. Lucu, ya?”

“Tidak lucu sama sekali.”

“Aku pergi kesana, ke Cupcake Shop tadi pagi lalu menemukan sesuatu yang baru. Di beranda toko itu sekarang ada mesin soda. Kau tinggal memasukkan uang recehan, pencet tombol pilihan soda mana yang kau suka, lalu kau akan mendapatkan soda yang kau suka itu. Menyenangkan, bukan?”

Mata Ursula yang sedari tadi melebar karena kesal, kali ini melebar berbinar karena senang. “Benarkah? Sekarang ada mesin sodanya? Aku harus cepat-cepat kesana.” Ia bergegas mengambil tasnya dan beranjak berdiri untuk segera pergi ke toko roti yang baru saja diceritakan Daniel. Bisa dibilang ia tergila-gila dengan toko itu. Semua jenis roti sudah ia cicipi, setiap meja dan kursi makan sudah didudukinya, seluruh pegawai sudah dikenalnya, setiap pernak-pernik hiasan sudah di sentuhnya. Kalau ada sesuatu yang baru di toko itu, ia tentu harus segera menjajalnya, termasuk mesin soda ini.

Daniel menahan Ursula dengan menariknya duduk kembali yang tentu saja membuat gadis itu bertambah kesal. “Ada apa sebenarnya antara kau dan Cupcake Shop, cupcake? Itu hanya sebuah toko. Kau membuatku bertanya-tanya, cupcake, kau membuatku penasaran setengah mati.”

“Aku harus segera kesana. Lepaskan aku!” Ursula memberontak.

“Kau bertingkah seperti rumahmu sedang terbakar saja. Kau harus tetap disini karena aku ingin menunjukkanmu sesuatu yang pasti sangat ingin kau lihat.” Daniel mengambil sesuatu dari tasnya sambil tersenyum tengil, senyum yang sudah menjadi ciri khasnya ketika akan mengerjai seseorang. Tapi Ursula tidak memerhatikan wajah Daniel, matanya tertuju pada tangan pemuda itu yang sedang merogoh tasnya. Daniel berhasil membuat Ursula penasaran.

Sekaleng soda dikeluarkan Daniel dari dalam tasnya. Sekaleng soda biasa.

“Ini adalah soda yang kudapat dari mesin soda di Ursula Shop.” Ujar Daniel sambil menyodorkan kaleng soda.

“Cupcake Shop.” Ralat Ursula.

“Iya, itu, Cupcake Shop.” Daniel dengan cepat menjawab sebelum Ursula mengajukan pertanyaan. “Tidakkah kau ingin mencobanya sekarang? Soda yang didapat dari toko kesukaanmu, toko kecintaanmu. Daripada kau berjalan sampai jauh dan memakan waktu sepuluh menit, lebih baik kau coba dulu sekarang. Lihatlah sodanya ada di depan matamu. Tinggal kau raih saja.”

Ursula mengerjapkan matanya yang sedari tadi melebar. Ia sedang bertanya-tanya apakah saat ini Daniel sedang memainkan sebuah lelucon atau tidak. Tapi lelucon apa? Bahaya macam apa yang bisa muncul dari sekaleng soda? Lagipula, ia sangat ingin menjajal yang baru di Cupcake Shop. Ia tidak bisa menahan diri, akhirnya ia menerima pemerian Daniel.

“Ah, akhirnya kau menerima niat baikku.” Daniel berujar dengan nada puas. Sesaat kemudian, ia memundurkan kursinya menjauh sedikit demi sedikit agar Ursula tidak sadar.

Ursula dengan polos memainkan kaleng soda di tangannya. Memerhatikan setiap sisi kaleng itu, mencium aromanya, lalu menggerakkan tangan untuk membuka kalengnya. Lalu… duarr. Kaleng soda di tangannya meledak seketika. Ia kaget setengah mati. Ledakannya tidak terlalu besar dan tidak melukai tangannya, namun hanya membuatnya menjadi berwarna-warni. Cairan cat yang terbungkus gelembung plastik pecah saat ia membuka pembuka kaleng itu, yang cara kerjanya seperti pemantik. Pemantik ditarik, gelembung berisi cat di dalamnya pecah dan membuat kelang itu meledak. Akibatnya, pakaian dan wajah Ursula menjadi berwarna-warni karena terkena cat.

Daniel tertawa melihat Ursula. Ia tidak mengatakan apapun tapi hanya tertawa. Seisi kafetaria yang saat itu sedang sangat ramai melihat ke arahnya dan tertawa. Ursula merasa sangat malu. Ia mengenal hampir semua orang yang ada di kafetaria itu, dan mereka sekarang melihatnya berwarna-warni. Ia langsung berdiri dan menerobos kerumunan orang untuk menuju pintu keluar tanpa mengatakan apapun. Orang-orang yang dilewatinya pun berusaha menghindar agar tidak terkena cat.

“Hei, mau kemana? Sini aku bantu bersihkan.” Teriak Daniel dari kejauhan yang entah kenapa terdengar seperti nada mengejek. Tapi Ursula tak mengacuhkannya dan berjalan pergi keluar kafetaria.

Ursula berjalan di koridor kampus dengan langkah cepat. Ia merasa sangat marah pada Daniel, dan juga pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tertipu lagi oleh lelucon pemuda itu setelah sekian kali ia dijadikan bahan lelucon. Ia benar-benar sedang kesal dan butuh orang untuk menenangkannya. Ia meraih ponsel di sakunya dan memencet sebuah nomor telepon. Tidak berapa lama kemudian, orang di seberang telepon mengangkat panggilannya. Ia langsung berbicara. “Halo, Chester. Kau dimana? Aku membutuhkanmu.”