Soreku bersama Madlyn

#1st : Suatu sore, namanya Madlyn  
“Kau seharusnya menonton pertandingannya kemarin. Seru sekali.”

“Seseru itukah?” Aku menjawab Madlyn tanpa memalingkan pandanganku dari layar komputer. Kulihat dari ujung mataku, ia menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang. Wanita yang duduk di sampingku ini sedari tadi bercerita tentang pertandingan Superbowl yang ditontonnya secara langsung kemarin. Terlebih tim kesukaannya menang di pertandingan itu, ia semakin tidak bisa membendung keinginannya untuk menceritakan segala yang dilihatnya kemarin.

“Seattle Seahawks menang telak. Broncos tidak ada apa-apanya.”

“Hmm. Kau sudah mengatakan itu sekitar… lima kali.”

“Karena Seahawks benar-benar keren.”

Aku tidak menanggapinya kali ini. Konsentrasiku tertuju pada file-file dokumen di depanku dan sepertinya ia mengerti. Ia berhenti berbicara, lalu memalingkan wajahnya keluar jendela.

Semenjak empat minggu terakhir, aku menghabiskan waktu soreku di apartemen Madlyn, di kamar yang selantai dibawah kafe plasa seberang gedung. Aku tidak lagi datang ke kafe itu karena aku mulai bosan duduk sendirian berjam-jam. Aku bosan mengerjakan pekerjaan kantor tanpa seseorang mengajakku berbicara. Aku bosan. Empat minggu lalu, di hari Rabu, aku mengarahkan mobilku memasuki parkiran plasa, lalu beberapa saat kemudian aku berubah pikiran dan memutuskan untuk memutar setir menuju gedung di seberangnya.

“Bagaimana rasa kopinya?” Madlyn memulai pembicaraan setelah lima belas menit tidak bersuara.

Aku berhenti membaca dokumen, meraih cangkir kopi diatas meja lalu menyeruputnya. “Lumayan.” Jawabku singkat.

“Aku menyuguhkannya setengah jam yang lalu. Pekerjaanmu masih banyak?”

“Sedikit lagi. ” Aku membenarkan komputer jinjing di pangkuan, lalu kembali berfokus pada dokumen yang sedang aku kerjakan. Keheningan kembali menyita ruangan cukup lama. Entah bagaimana dengan Madlyn, tapi aku tidak pernah keberatan berada dalam diam. Bagiku, bukan berapa banyak topik yang kami bicarakan, tapi keberadaan kami pada ruangan yang sama seperti saat ini lah yang terpenting.

Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan topik yang normal. Topik-topik pembicaraan yang kutahu hanyalah tentang kantor, bisnis, harga setelan baju termahal, dan secangkir kopi. Aku hampir tidak pernah tahu apa yang harus dibicarakan. Beruntungnya, Madlyn bukan orang sepertiku. Ia adalah wanita menyenangkan yang selalu menemukan hal baru untuk dikatakan. Sekali ia memancingku dengan topik yang ia punya, aku bisa bercerita banyak tanpa henti. Sama seperti saat pertama kali kami bertemu di kafe itu. Rasanya seperti ia adalah sumbu bagiku untuk mengatakan apa yang ada di kepalaku.

Beruntungnya lagi, ia selalu tahu kapan harus berhenti mengajakku berbicara, yaitu ketika aku tengah berkonsentrasi pada sesuatu.

“Akhirnya selesai.” Aku menutup komputer jinjingku, menaruhnya di dalam tas, lalu merenggangkan badan untuk beberapa saat. Duduk berlama-lama selalu membuatku badanku pegal, lucunya, aku tetap suka duduk berlama-lama.

“Apa lagi yang ingin kau lakukan setelah ini? Mau main table game?” Tanya Madlyn dengan alis terangkat. Setelah empat minggu bersamanya, aku mulai hafal kebiasaannya mengangkat alis yang tandanya ia sedang sangat ingin melakukan sesuatu.

“Malas, ah.” Tangkisku.

“Ayolah.”

Aku memberi jeda sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku sedang ingin berpikir.”

Sebuah tawa mengembang di wajah oriental Madlyn. Ia menggelengkan kepalanya dengan geli.

“Kenapa kau tertawa?”

“Kau baru saja melakukannya lagi.”

“Melakukan apa?” Aku tidak tahu hal lucu apa yang baru saja kulakukan.

“Kau baru saja berpikir untuk berpikir.”

“Aku tidak mengerti.”

“Landon, setelah kau menyelesaikan sesuatu, seringnya kau berpikir dulu tentang apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Setelah beberapa saat, kau memutuskan bahwa yang akan kau lakukan itu adalah berpikir. Jadi, kau berpikir untuk merencakan untuk berpikir.”

“Kalau aku tidak terlalu banyak berpikir, aku tidak akan sesukses sekarang.”

Madlyn menyernyitkan dahinya. “Bukankah kau ingin mundur dari posisimu karena bosan?”

Aku meraih lagi secangkir kopi dingin diatas meja, lalu mengubah posisi dudukku menghadap Madlyn. Kaki kiriku menekuk diatas sofa dan cangkir kopinya kini kepegang diatasnya. “Kalau aku mundur, aku kalah.”

“Kalah?” Madlyn tidak mengerti.

“Aku sudah berusaha keras untuk menjadi aku yang saat ini. Aku bosan karena memang aku orang yang cepat bosan. Kalau aku menjadikan sifat burukku ini sebagai alasan untuk mundur, berarti aku kalah pada diriku sendiri. Aku tidak pernah ingin kalah. Sejenuh apapun, sekuat apapun keinginanku untuk berhenti berlari, kakiku secara otomatis justru bergerak lebih cepat. Rasa bosanku adalah penggerakku.”

Dan juga penggerakku menemuimu. Batinku dalam hati.

Madlyn mengikuti posisi dudukku. Ia menyerongkan badannya ke kanan dan kaki kiri bertumpu pada kaki kanannya. Saat ini kami duduk berhadap-hadapan. “Jadi… sifat burukmu, yang adalah cepat bosan, menjadi motivasimu untuk selalu bertahan. Kau tidak punya motivasi lainnya? Seperti keluarga? Ayah? Ibu?”

“Mereka ada di Cambridge, tapi ya, mereka adalah alasan utamaku.”

“Cambrige, Inggris? Mereka berada sangat jauh, bagaimana cara mereka memotivasimu?” Madlyn selalu ingin tahu tentang latar belakangku. Sekali aku menanggapi pertanyaannya tentang keluarga, ia tidak akan berhenti bertanya.

Aku memberi jeda sejenak. “Mereka memotivasiku untuk berdiri di atas kakiku sendiri.”

“Tujuannya kembali pada dirimu lagi? Untuk keuntunganmu sendiri?”

“Mereka sudah punya segalanya. Mereka bahkan bisa memberiku segalanya. Karena itulah, aku ingin berdiri sendiri tanpa bantuan mereka.”

Madlyn terdiam, ia sedang menghakimiku di dalam kepalanya.

“Terserah bagaimana kau menilaiku.” Aku mengacak-ngacak rambutnya yang disisir rapi, lalu bangkit dari sofa yang entah sudah berapa lama aku duduki. Aku mondar-mandir di kamar Madlyn sambil melihat-lihat foto yang sudah lebih dari sepuluh kali aku lihat. “Aku ingin suasana baru.”

“Apa?” Madlyn terkejut mendengar suaraku yang menggema di dalam kamar bercat ungu ini. Entah kenapa, suaraku selalu menggema di ruangan ini bila aku berbicara agak keras. Padahal hal seperti ini tidak pernah terjadi bahkan saat Madlyn berteriak sekalipun.

“Tunjukkan benda-benda lainnya yang bisa aku lihat. Apapun.”

“Kau sedang membicarakan ruangan itu.” Madlyn tersenyum simpul sambil menunjuk ruangan di sebelah kamar ini. “Sudah kubilang jangan sekarang.”

Aku berjalan ke arah sofa dan mengarahkan pandangan serius pada Madlyn. “Kumohon. Sekali ini saja.” Aku momohon, dan entah kenapa aku melakukan hal yang jarang kulakukan ini padanya.

“Baiklah.” Madlyn bangkit dari duduknya. Ia mengiyakan.

“Yeah!” Seruku.

“Tapi hanya sekali ini saja dan kau tidak boleh tertawa.” Telunjuk tanda memperingatkan diberikan Madlyn padaku.

Aku mengikuti Madlyn menuju ruangan sebelah. Ia mengambil kunci dari salah satu laci lemari di ruang tengah lalu membuka pintu ruangan ini. Aku sangat ingin masuk ke dalamnya karena aku ingin melihat karya Madlyn. Selama ini aku selalu mengoceh tentang karyaku, dan sekaran giliranku melihat karyanya. Saat memasuki ruangan, aku melihat lebih dari tiga puluh patung tanah liat ditata rapih di sebuah lemari kaca. Ukuran patung-patung tersebut bervariasi, ada yang berukuran kecil, sedang, dan besar. Untuk patung yang besar tidak disimpan di dalam lemari kaca, melainkan di luar lemari dan hanya ditutupi oleh kain putih untuk melindungi dari debu. Bentuknya pun bermacam-macam, tapi kebanyakan berbentuk pohon dan bunga. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja untuk membentuk tanah liat. Seonggok tanah liat mengering di atasnya karena tidak diselesaikan oleh Madlyn. Tanah liat yang belum sempat dibersihkan juga tercecer dan mengering di atas lantai. Patung-patung tersebut sangat mengagumkan bagiku. Aku sangat terkesan hingga tidak menyadari Madlyn mengajakku bicara sejak tadi.

“Kau tidak mendengarkanku, ya?” Wanitu itu menepuk bahuku.

“Ah, apa?”

“Aku tadi mengatakan bahwa kau tidak seharusnya melihat semua ini. Aku malu.”

Aku mengerutkan dahiku. “Kenapa kau malu?”

“Patung-patung ini tidak terlalu bagus untuk dilihat oleh orang lain, terlebih oleh orang sepertimu, Landon.” Tangan Madlyn menyusuri pinggiran meja di tengah ruangan. “Aku dulu selalu ingin jadi seorang seniman. Menciptakan karya-karya yang menakjubkan, menuangkan perasaanku pada setiap tanah liat yang aku bentuk. Hingga pada suatu titik aku menyerah lalu meninggalkan semua ini. Menghadapi kehidupan nyata dengan terjun ke dunia bisnis.”

“Semua ini menakjubkan, Madlyn. Kau punya bakat yang luar biasa dan seharusnya kau sadar akan hal itu. Kehidupan yang seperti ini juga nyata.” Aku membuka kain putih penutup salah satu patung berukuran besar. Bentuknya pohon dengan akarnya mencuat keluar. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lain dari patung pohon ini. Emosi kuat yang berbaur dengan rasa damai tersirat dari tiap lekukannya yang rapih dan halus.

Madlyn meraih tanganku dan menarikku ke luar ruangan. Aku terkejut dengan apa yang ia lakukan. Ia menutup pintu di belakangnya lalu mengenggam erat tanganku. “Waktu melihat-lihatnya sudah habis, Mr. Landon Stuart.” Ucapnya pelan dengan senyum simpul mengembang di wajahnya.

“Lain kali aku butuh waktu yang sedikit lebih lama.” Aku mengacak-acak rambut Madlyn.

“Ya, lain kali.” Madlyn mengangguk. “Tidakkah kau tahu betapa berbedanya kita?”

“Bagian mana yang berbeda dari kita?”

“Segalanya.” Jawab Madlyn singkat.

“Benar, segalanya tentang kita berbeda. Lalu?”

Madlyn mendongak untuk menatap wajahku. “Dan kita masih senang minum kopi bersama.”

Aku tertawa. “Kau minum susu, aku yang minum kopi.”

“Intinya tetap sama.”

“Baiklah, terserah.” Aku mengacak-acak rambut Madlyn lagi. “Ayo main table game. Biar aku yang memilih permainannya. Bagaimana kalau monopoli?”

“Aku pebisnis, Landon. Aku handal bermain monopoli. Kau pasti kalah.”

“Lihat saja.” Balasku menantang. Aku dan Madlyn duduk di depan televisi ruang tengah dengan papan monopoli diantara kami. Sore ini kami menghabiskan waktu lagi melakukan apa yang ingin kami lakukan. Sore ini tidak seperti sore empat minggu yang lalu dan aku menyukainya. Perlahan pertahananku mulai runtuh, dan aku tidak keberatan karena aku juga perlahan meruntuhkan pertahanan Madlyn. Kami memang memiliki banya hal yang berbeda, tapi satu yang membuat kami sama, yaitu kebiasaan kami menghabiskan waktu sore memandang keluar jendela.