Bangku untuk pria itu

Emily dan Daisy berbincang di antara bintang. Mereka duduk di tengah keramaian dan gemerlap cahaya. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang peduli, mereka merasa aman. Pun, berbicara bak berteriak tidak ada yang terganggu. Karena tidak ada yang ingin mendengarkan. Sesekali, beberapa pasang mata hampir menjatuhkan pandangan pada mereka, namun tidak ada yang benar-benar melihat.

"Aku beberapa kali menemukan keanehan." Emily memulai topik pembicaraan yang entah ke berapa.

"Keanehan apa maksudmu?" Daisy tidak mengerti. Emily sering kali membicarakan hal yang tidak ia mengerti. Betapapun ia mencoba mengerti hal-hal gila yang berlarian di kepala gadis yang dikenalnya itu, tetap ia tidak mengerti.

"Lihatlah betapa keras orang-orang berusaha. Pria di ujung sana contohnya, ia mencoba menyendok sisa kuah di mangkuknya yang tinggal sedikit. Untuk apa? Kuah yang tinggal sedikit itu bukankah tidak ada artinya? Tinggalkan saja disana, berdiri lalu membayar di kasir. Apa peduli ia dengan sisa kuah?" Jelas Emily dengan tangannya menunjuk arah jarum jam sepuluh.

"Mereka hanya ingin dimengerti." Sahut Daisy.

"Ingin dimengerti tapi tidak ingin mengerti. Ingin membuat orang di sampingnya bertahan tapi tidak memberikan tempat yang cukup pantas untuk bertahan. Menyongkel kerak di lantai tanpa membuang keraknya, dibiarkan disitu membusuk. Apalah, kenapa, terserahlah."

"Seperti betapa mereka tidak mengerti kita? Yang bahkan sedetik melayangkan pandangan pada ujung jari kita pun enggan. Itukah maksudmu?"
Emily mengangguk dengan pandangannya yang kini mengarah ke belakang punggung Daisy. "Salah satunya."

"Biarkan saja seperti itu."

"Biarkan?"

"Mereka hanya tidak mengerti, Emily. Bertahanlah disini, berpegangan pada apapun yang bisa kau pegang."

"Pria itu kini ada di belakangmu. Berdiri menunggu seseorang. Beberapa kali melihat jam tangan, mengetukkan jarinya pada jari lainnya, menggerakkan kakinya seperti sedang berdiri di atas arang. Kenapa dia membuang waktu seperti itu? Tinggalkan saja siapapun yang ditunggunya. Masalah selesai."

"Kau sekarang yang tidak mengerti orang-orang kebanyakan. Mereka senang menunggu, termasuk pria berjaket kulit itu. Aku justru senang melihatnya berdiri disana entah kenapa. Lihatlah kantung hitam di bawah matanya. Menunjukkan kesakitan dan aku suka melihat kesakitan." Kedua ujung bibir Daisy membentuk sebuah senyum simpul.

"Itu artinya kau suka melihat dirimu sendiri dan aku."

"Tidakkah kau menyadarinya?"

"Apa?"

"Dia salah satu dari kita. Pria itu, salah satu dari kita berdua!"

"Bagaimana kau tahu?"

"Dari cahayanya yang meredup perlahan hingga hampir padam. Oh, ia sedang memandang ke arah kita saat ini. Ia orang pertama yang memandang kita!"

"Sepertinya ia lelah menunggu dan memutuskan untuk menyerah. Menyerah seperti yang dulu kita lakukan."

Senyum Daisy mengembang sesukanya, tangannya menari-nari bahagia, matanya bebinar tanpa cahaya. "Bersihkan debu di bangku sebelahmu itu, Emily. Seseorang akan segera mendudukinya."