Daffodil

"Secantik apapun bunga, bila tidak disiram air untuk waktu yang lama pasti akan mati."

"Seperti bunga Daffodil itu?" Adam menunjuk pot bunga Daffodil yang kuletakkan di atas meja makan. Ia lalu menoleh ke arahku dan tersenyum.

Aku masih memandang keluar jendela, menatap pemandangan kota yang selalu terlihat indah di malam hari. "Aku menanam bibitnya musim gugur yang lalu. Kusiram secara teratur, kuberi pupuk sesekali. Kurawat hingga bunga-bunganya mekar di akhir musim dingin. Cantik sekali warna bunga-bunga itu saat bermekaran -- kuning cerah seperti matahari. Setiap kali aku melihat bunga-bunga Daffodil itu rasanya seperti mereka juga berbunga di dalam hatiku."

"Lalu bagaimana Daffodil itu bisa mati?" Adam menyernyitkan dahinya.

Aku tidak menjawabnya kali ini. Kami terpaku dalam diam untuk beberapa menit. Entah apa yang sedang dipikirkan Adam saat ini, aku tidak akan menanyakannya -- karena aku tidak senang bertanya.

"Pergi kemana kau dua minggu terakhir? Ponselmu tidak aktif. Flat-mu kosong. Kau juga tidak terlihat di kampus." Adam akhirnya angkat bicara setelah beberapa saat. Berbeda denganku, ia senang bertanya.

"Melenyapkan diri." Jawabku singkat.

"Kenapa? Kemana?"

"Agar seseorang mencariku."

"Well, tujuanmu tercapai. Aku mencarimu. Kemana kau pergi?"

"Tapi bukan kau yang aku inginkan untuk mencariku."

"Lalu siapa? Aku tadi bertanya, kemana kau pergi?"

"Kau tahu siapa." Aku, masih memandang keluar jendela, melambaikan tangan pada Adam agar ia berdiri di sebelahku. "Langit yang di bagian sana warnanya kemerahan. Indah sekali. Lihat, gedung yang di ujung jalan itu baru saja memasang lampu-lampu berwarna hijau pada lantai teratasnya. Lihtlah, Adam, kemari."

Adam tidak menurutiku. Ia masih duduk di kursi meja makan dan memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. "Kemana kau pergi dua minggu terakhir, Anne?"

"Sudah kubilang melenyapkan diri... ke planet Pluto." Aku terkekeh sendiri oleh leluconku -- yang bagi Adam tidak lucu.

"Hanya karena satu orang, kenapa duniamu menjadi rapuh seperti ini?"

"Runtuh." Sahutku cepat.

"Apa?"

"Duniaku runtuh." Aku menghela nafas, memberi jeda sejanak. "Di akhir musim dingin, saat bunga-bunga Daffodil itu sudah mekar, aku menghiasnya dengan sehelai pita berwarna merah. Lalu kuletakkan di depan pintu rumah kau-tahu-siapa. Aku memang berniat memberikan sedikit kejutan. Aku mengetuk pintu rumahnya, lalu pergi. Saat ia membuka pintu, yang ia temukan hanya se-pot Daffodil berhias pita tanpa ada seorang pun disana."

"Lalu?"

"Aku juga menyisipkan sebuah catatan bertuliskan 'Kuharap warna secerah matahari bunga-bunga Dafoddil ini menceriakan hari-hari musim semi-mu. Ttd: Anne.' Aku berharap ia menaruh pot itu di pinggir jendela kamarnya sehingga setiap pagi saat ia bangun tidur, yang ia lihat adalah bunga-bunga Dafoddil yang aku berikan."

"Sudah kubilang kan untuk melepaskannya? Lepaskanlah, atau kau..."

"Aku belum selesai bercerita, Adam."

"Oh, baik, lanjutkanlah."

"Suatu sore, aku sengaja datang ke rumahnya untuk mengantarkan makanan yang aku masak sendiri." Aku tersenyum simpul. "Aku selalu ingin ia mencicipi masakanku."

"Ia menolak makanan yang kau antar?"

"Bukan. Aku menemukan pot Daffodil -- yang aku tanam sejak dari bibit -- mati di pojok beranda rumah kau-tahu-siapa. Daffodil itu mati karena tidak pernah disiram air, tidak pernah diperhatikan. Hanya ditinggalkan disitu, hingga mati. Akhirnya, aku membawanya pulang dan kutaruh diatas meja makan. Aku bahkan sampai lupa untuk memberikan masakanku pada kau-tahu-siapa. Semenjak hari itu, aku sadar ternyata aku bukan apa-apa. Aku bukan seperti yang selalu kau-tahu-siapa harapkan. Aku... berbeda."

Adam bangkit dari duduknya, lalu menghampiriku.

"Aku mencoba menghilang. Bodohnya, aku berharap ia mencariku. Saat aku tepat di depan matanya pun ia tidak menoleh sedikitpun, apalagi mencariku. Dasar bodoh."

Adam menepuk-nepuk pundakku, mencoba memberikan sedikit kehangatan pada hatiku yang kedinginan. "Lepaskanlah, Anne. Aku sudah mengenalmu bertahun-tahun. Kau wanita yang sangat kuat, sekuat Wonderwoman. Duniamu tidak akan runtuh semudah itu hanya karenanya."

"Entahlah."

"Ia hanya akan terus menyakitimu. Hentikan semua ini." Adam menghampiri meja makan dan kembali duduk di kursi. "Ah iya, kenapa kau memilih Daffodil untuk diberikan padanya?"

Aku menghela nafas panjang. "Kau ingat aku pernah bercerita tentang masa kecilku saat Ibuku masih hidup? Ia senang sekali dengan bunga Daffodil hingga memberiku julukan nama bunga itu." Aku menatap Adam dan tersenyum hambar. "Daffodil adalah aku."


Next parts
#2nd : Asteroid
#3rd : Supermoon
#4th : Infinitation