Cahaya di ujung lorong gelap, matahari terbit, dan langit malam

Teruntuk Cahaya di Ujung Lorong Gelap, Matahari Terbit, dan Langit Malam.

Untuk menghibur diri, orang-orang yang melalui situasi berat seringkali berkata "Selalu ada cahaya di ujung lorong gelap". Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang duduk sendirian dan memandang kosong ke arah jalan raya, salah satu teman saya juga mengatakan hal yang sama kepada saya. Teman saya tersebut mengira saya mengalami sesuatu yang berat hanya karena melihat saya melamun. Padahal kenyataannya saya hanya sedang berpikir tentang sesuatu -- ditambah melamun adalah salah satu kebiasaan saya. Bukannya menghibur, peribahasa tersebut justru membuat saya berpikir. 

Lorong gelap apa yang sebenarnya dimaksud peribahasa tersebut? Lorong gelap sebagai perumpaan masalah? Atau lorong gelap sebagai perumpamaan kehidupan? Kalaupun yang dimaksud adalah lorong gelap sebagai perumpamaan masalah, apabila kita bertemu cahaya di ujung lorong, bukankah lebih menakutkan lagi bertemu apa yang ada dibalik cahaya tersebut? Mungkin saja sesuatu yang lebih buruk dari masalah di dalam lorong atau bahkan sesuatu yang lebih membosankan. Atau mungkin saja justru lorong lainnya lagi yang lebih panjang. Bagimana bisa kau, Cahaya di Ujung Lorong Gelap, dimaknai sebagai sesuatu yang penuh harapan akan kebahagiaan? Bahkan setelah cahaya benderang, bukankah masih memungkinkan adanya kesedihan?

Apabila yang dimaksud adalah lorong gelap sebagai perumpamaan kehidupan, ujung lorong berarti akhir dari kehidupan itu sendiri. Jadi bagaimana mungkin kita tahu di ujung lorong terdapat cahaya jika tidak ada satu pun orang mati yang kembali hidup untuk menceritakannya? Kenapa kita beranggapan bahwa apa yang di ujung lorong adalah cahaya? Bisa saja ternyata sekumpulan tarantula yang membuat sarang di ujung lorong tersebut. Lalu apa sebenarnya kau duhai Cahaya di Ujung Lorong Gelap? Cahaya yang penuh kejutan dibaliknya atau sarang tarantula yang menyamar menjadi cahaya? Ah sudahlah, lagipula peribahasa tersebut hanyalah sebuah penghiburan diri yang dilontarkan orang-orang sebagai bentuk penyangkalan. Tidak perlu terlalu dipikirkan.

Daripada menaruh harapan pada peribahasa "Selalu ada cahaya di ujung lorong gelap" yang menurut saya tak berdasar, saya lebih memilih percaya padamu, oh sang Matahari Terbit. Dulu, dulu sekali, saya seringkali menanamkan harapan pada beberapa orang yang memiliki wajah sehangat surya dan tangan selembut kain sutra. Lalu menganggap mereka sebagai matahari yang akan terbit keesokan hari setelah saya terbangun dari rasa lelah. Tidak jarang saya menaruh harapan yang berlebihan hingga rasanya pagi saya bergantung pada terbitnya mereka. Lalu, saya menunggu dan menunggu mereka untuk terbit. Menunggu, menunggu, dan menunggu dalam rasa lelah yang amat sangat. Menunggu lama sekali hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyerah. Saya sudah menunggu terlalu lama hingga semua kepercayaan hilang begitu saja. Orang-orang dengan wajah sehangat surya tersebut justru terbit pada pagi yang dimiliki orang lain, bukan pagi saya, padahal saya menaruh harapan besar pada mereka.


Kenapa Matahari Terbit, kenapa? Kenapa orang-orang yang saya pikir adalah kau justru membuat saya kecewa setengah mati? Sungguh, saya mengira salah satu dari mereka adalah kau. Sungguh, Matahari Terbit, saya sungguh bosan dengan malam yang panjang. Sungguh dan sungguh ambisi saya untuk menunggu telah tergerus waktu bersama segala harapan. Bahkan ketika saya mencoba menikmati langit di malam yang panjang dan menaruh harapan padanya, kepercayaan saya juga terdepak oleh sebuah ilusi.

Ah ya, duhai Langit Malam, kenapa tak kau katakan sejak awal bahwa sebenarnya kau adalah sebatas ilusi? Saya menaruh harapan besar padamu, sangat besar. Bukan harapan terhadap seseorang yang kuyakini adalah kau, melainkan harapan terhadap kau sendiri. Langit Malam yang menyiratkan kedamaian dalam kesendirian. Langit Malam yang membuat saya tak merasa kecil bahkan saat saya berdiri sendirian - karena begitu luasnya hingga membuat saya merasa seluas kau. Sempat juga saya berpikir tak apa matahari tak terbit seiring lenyapnya pagi. Toh saya masih memilikimu, Langit Malam yang maha luas tak terbatas. Dulu, saya senang sekali menikmatimu dari balik jendela kamarku seraya menyeduh segelas minuman hangat, dulu.

Hingga pada suatu waktu, seseorang membisikkan sesuatu yang pada akhirnya saya benarkan. Bahwa sesungguhnya langit tak pernah ada. Bahwa langit hanyalah sesuatu yang diciptakan manusia untuk menyangkal ketidakmampuannya menjangkau ketidakterbatasan angkasa. Jarak pandang manusia sangat terbatas sehingga ketika mendongak keatas, hanya terlihatlah lembaran berwana biru pada siang hari dan hitam pada malam hari, bukan angkasa yang tak ada batasnya. Langit adalah ilusi. Langit adalah sebuah penyangkalan terhadap sebuah ketidakmampuan. Dulu saya pikir langit begitu luas dan tak terbatas, namun ternyata langit adalah keterbatasan itu sendiri.

Harapan apa yang kini bisa saya percaya? Cahaya di Ujung Lorong Gelap, cahayamu saja tak jelas menandakan apa -- entah sesuatu yang penuh kejutan atau sesuatu yang merupakan penyamaran. Ketika saya memilih menaruh kepercayaan pada orang-orang yang saya pikir adalah kau sang Matahari Terbit, mereka justru tak kunjung terbit di pagi saya dan meninggalkan saya di malam yang sungguh sangat panjang. Bahkan saat saya mencoba menikmatimu duhai Langit Malam, ternyata kau hanyalah sebuah ilusi dan paradoks belaka. Lalu pada siapa kini kepercayaan saya harus saya taruh? Harapan dengan bentuk seperti apa lagi yang bisa saya sambut dengan pelukan hangat?

Cahaya di Ujung Lorong Gelap, Matahari Terbit, dan Langit Malam. Selanjutnya apa lagi?