Kaktus dan bunga mawar

Dua orang pemuda sedang berbelanja buah tangan di komplek perbelanjaan sebuah tempat wisata dataran tinggi. Setelah lama berputar-putar, kedua pemuda tersebut sudah cukup banyak berbelanja dan memutuskan untuk segera pulang. Mereka sedang berjalan menuju pintu keluar saat berpapasan dengan seorang nenek tua yang menawarkan dua buah tanaman: tanaman kaktus dan tanaman bunga mawar. Entah kenapa mereka  tertarik untuk membeli tanaman tersebut -- bukan untuk dijadikan oleh-oleh melainkan untuk dirawat sendiri. Pemuda pertama dengan cepat meraih tanaman mawar, sedangkan pemuda kedua mendapatkan tanaman yang tersisa  -- sebuah tanaman kaktus kecil penuh duri. Pemuda pertama dengan senang membawa pulang tanaman bunga mawar sembari mengangung-agungkan kecantikan kelopak bunganya yang berwarna merah merona. Sedangkan pemuda kedua tidak mengatakan apapun. Ia tidak mengeluh karena mendapatkan tanaman kaktus tak berkelopak dan bahkan tidak meminta pemuda pertama untuk bertukar tanaman. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengangungkan kaktus tersebut dalam diam.

Setelah dua minggu kembali ke kota asal, pemuda pertama kaget mendapati tanaman bunga mawarnya semakin hari semakin layu. Batangnya kian mengkerut dan kelopaknya makin berwarna kecoklatan. Ia lalu bertanya pada pemuda kedua, apakah tanaman kaktus yang dimilikinya mengalami hal yang sama. Pemuda kedua hanya menggeleng kepala. Tidak, katanya singkat. Rupanya pemuda pertama lupa bahwa ia tinggal di sebuah kota maha metropolitan yang sedang diserang pemanasan global. Panas di siang hari dan dingin di malam hari. Iklim yang tak bersahabat tersebut tidak cocok untuk tanaman bunga mawar yang dibibitkan di dataran tinggi dengan iklim sejuk. Perubahan iklim yang drastis membuatnya tidak mampu tumbuh dengan baik. Hingga akhirnya layu, lalu mati. Hal ini berbeda dengan tanaman kaktus yang dibeli pemuda kedua. Walaupun dibibitkan di dataran tinggi, ia tetap mampu bertahan di iklim panas. Hanya perlu disiram beberapa kali dalam sebulan, ia mampu hidup dan tumbuh.

Pemuda kedua nampaknya tahu sejak awal bahwa kilau kelopak merah yang dimiliki tanaman bunga mawar tidak akan bertahan lama. Tanaman tersebut hanya mampu tumbuh dengan baik di tempat-tempat tertentu -- terutama tempat berhawa sejuk. Ia nampaknya juga tahu bahwa tanaman kaktus lebih mampu bertahan di iklim dengan perubahan drastis sekalipun sehingga ia tidak mengeluh saat mendapatkannya, malahan bersyukur. Hal ini mengingatkannya bahwa kilau warna tidak berarti apapun apabila sesuatu tersebut tidak mampu bertahan di situasi terberat. Bagi kaktus penuh duri yang warnanya tak secerah tanaman bunga mawar, ia mampu berdiri tegar di tengah pemanasan global kota maha metropolitan. Tanaman kaktus dan tanaman bunga mawar dibibitkan di tempat yang sama, namun kemampuan bertahan mereka tidak sama saat dibawa pada situasi lain. Kemampuan untuk bertahan lah yang membuat keduanya berbeda.

Pemuda kedua mengagumi dalam diam dan tanaman kaktus tersebut tetap mampu tumbuh dengan baik. Sedangkan tanaman bunga mawar yang diagung-agungkan pemuda pertama, tak mampu bertahan lalu layu dan mati. Lalu apakah kita berhak menyalahkan tanaman bunga mawar karena tidak mampu tumbuh baik di tempat yang tidak berhawa sejuk? Tentu saja tidak. Tanaman bunga mawar akan tetap terlihat cantik dalam keterbatasannya tumbuh dan tanaman kaktus akan tetap mampu selalu bertahan dalam keterbatasannya berkilau.