Cahaya biasa diantara ribuan pantulan surya

Untukmu, cahaya biasa diantara ribuan pantulan surya.

Aku tidak suka berada di tempat terang karena aku tidak dapat menemukanmu. Aku lebih suka berada di tempat gelap. Kegelapan membantuku melihatmu.

Kau bukanlah cahaya yang bersinar bak matahari terbit. Cahayamu biasa saja diantara kumpulan cahaya di permukaan bumi. Bahkan apabila yang lebih terang menggesermu, kau akan lengser seperti tak pernah berdiri tegak; kau akan tersibakkan oleh partikel-partikel yang berintensitas lebih tinggi. Kau, cahaya biasa diantara ribuan pantulan surya.

Maka dari itulah, aku tidak dapat melihatmu apabila berada di tempat terang. Cahaya-cahaya yang bersinar lebih terang darimu mengalihkan pandanganku. Aku hanya dapat melihatmu saat memejamkan mata dimana kegelapan paling pekat mengelilingiku.

Aku tidak peduli apabila kau tak seterang yang lain.

Aku tidak acuh apabila kau dengan mudahnya lengser oleh sibakkan cahaya lain.

Aku tidak mau tahu tentang redupmu, karena saat aku berada di tergelapku, hanya kau yang dapat kutemukan. Kau adalah satu-satunya harapan di saat yang lain melenyapkan diri. Aku selalu bisa menemukanmu saat memejamkan mata. Di sampingku. Menggandeng tanganku. Membisikkan kata-kata yang mujarab menenangkanku. Tersenyum hangat dengan caramu sendiri. Menghujamku dengan tatapan mata yang seakan berkata "Semuanya akan baik-baik saja".

Tentu semuanya akan baik-baik saja karena aku memilikimu. Aku tahu kau selalu disampingku. Aku hanya perlu memejamkan mata -- dan memejamkannya lebih rapat untuk melihatmu dengan seksama. Kau hampir tak terlihat saat terang namun satu-satunya yang bersinar saat aku terpejam.