Achillea Moonshine

Kau berwarna kuning cerah malam ini. Bukan warna kuning seperti yang dipancarkan matahari, melainkan warna kuning seperti pantulan bulan. Kuning cerah sayu yang berdiri tegak di tengah kegelapan. Indah sekali apabila memandangmu dari kejauhan. Bak lentera kecil yang menerangi terowongan. Rasanya aku ingin menggenggammu, mengantongimu di saku celana, dan menaruhmu disana untuk kujadikan simpanan.

Namun, setelah aku mendekat untuk memandangmu lekat-lekat, kulihat air mukamu tak bersahabat. Kelihatannya kau sedang bertarung dengan dirimu sendiri di dalam kepalamu. Entah apa itu, sepertinya kau sedang bertarung dengan banyak hal. Pandangan matamu melukiskan sebuah teriakan. Teriakan yang tak mampu didengar orang lain. Teriakan yang tak kau teriakkan, terpendam disitu hingga tertimbun bak tumpukan batu di ujung jalan. Rengkuh bibirmu melekat pada satu sama lain. Menahan diri agar tak satupun kata terucapkan. Urat wajahmu memancarkan kebutuhan atas pertolongan. Namun tiada yang datang untuk menuruti urat wajahmu itu karena kau berwarna kuning penuh kecerahan.

Mereka pikir kau ceria. Mereka pikir kau luar biasa. Mereka pikir kau baik-baik saja karena warnamu secerah bunga. Sebaliknya, kau justru sedang mengalami pertarungan. Pedang di tanganmu nampaknya tak lagi tajam. Kau membutuhkan tangan lain untuk mengulurkan pedang baru yang telah diasah agar kau menang. Namun, sayang sekali tiada yang datang.

Kau seperti Achillea Moonshine malam ini. Kuning secerah bulan yang sedang dalam pertarungan. Sendirian.