Forgotten

Ada hal yang terlalu lama direncanakan, ditinggikan, diimpikan, dan diserukan menjadi terlalu hambar untuk direalisasi. Dipuja begitu lama. Dibungkus kertas kado paling indah. Diikat dengan pita rapih. Disimpan untuk paling akhir dirasakan -- karena konon manusia cenderung menyimpan yang terasa paling enak untuk belakangan. Dikunci dalam lemari kaca paling rapat dengan tempelan kata-kata motivasi pada sisinya. Lalu ditinggalkan untuk mengurus hal-hal kecil lain. Sibuk sekali mengurus hal-hal kecil itu. Sebulan, dua bulan, satu tahun. Belum cukup juga waktu untuk membuat apa yang ada di dalam lemari kaca menjadi nyata. Alasannya macam-macam: aku belum cukup menabung bakat, nanti dulu tunggu waktu, aku masih sibuk dengan ini itu, rasanya aku masih terlalu kecil untuk impian sebesar itu, ini kan juga lagi proses merealisasikan. Banyak sekali alasannya. Dua tahun, tiga tahun, lima tahun. Kini lemari kaca itu sudah tertutupi oleh tumpukan ambisi-ambisi baru. Terlupakan namun menjadi pijakan. Terabaikan namun menjadi dobrakan. Tidak lagi yang pertama namun menjadi penyeru tujuan utama. Enam tahun, tujuh tahun. Kini lemari kaca itu tak lagi terasa sama. Terasa sangat hambar. Aneh. Baru. Asing. Pun sekarang sudah terlupa ambisi seperti apa sebenarnya yang ada di dalam lemari kaca. Kegamangan pun menggaung di kepala. Apakah ambisi ini benar-benar perlu dibuat nyata? Mungkin ambisi lama ini perlu dilepas, mungkin perlu dilupakan. Mungkin pada kenyataannya ambisi ini tak pernah sebesar itu.