Di Titik Tengah


Dia adalah segalanya. Bagaikan semilir angin laut yang menerpa rambutku saat di pantai, kupu yang hinggap di bunga yang kutanam sejak bibit, hangat selimut dikala hujan badai, musik merdu yang memanjakan jiwa, serta kepastian cahaya di ujung lorong gelap.
 
Aku ingin mendekapnya. Menahannya di titik ini untuk menemaniku berlayar mengarungi samudera -- atau aku yang menemaninya, sama saja. Memilikinya untukku sendiri. Menyuruhnya jangan kembali ke dekapan masa lalu. Mengajaknya makan malam sambil bercerita tentang rupa dunia. Melihatnya tertawa. Menyaksikannya jatuh cinta.. padaku.
 
Aku. Begitu banyak rasa sakit yang kusimpan dan dia mampu mengobati.. dengan nasihat bijak dan candaan renyah. Cukup dengan tatapan hangat, sentuhan lembut, dan pelukan melindungi. Seakan aku tidak akan merasa sakit lagi. 
 
Dia. Terlalu banyak tawa palsu yang dia paksakan, dan di hadapanku, dia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memaksa ceria -- menelanjangi jiwanya seutuh-utuhnya. Tanpa rahasia. Tanpa topeng seakan ‘aku baik-baik saja’. Tanpa harus malu saat meneteskan air mata. Karena bagiku, beban bukan sebuah hal yang harus ditutupi, dikunci dalam ruang seakan tidak ada -- melainkan dilepaskan, untuk dibagi denganku.. belahan jiwanya. 
 
Kami adalah dua manusia yang mencari kebahagiaan. Dibalik idelaisme kami yang benar-benar berbeda. Aku kebarat-baratan, sedangkan dia nyaman dengan budaya timur. Dia mengalir seperti air sungai, sedangkan aku memiliki banyak ambisi duniawi. 
 
Perbedaan mempertemukan kami di titik tengah -- di tengah pencarian atas makna hidup serta arti sesungguhnya dari memahami. Kami jatuh cinta dalam pelarian dan pencarian.