Posts

Showing posts from April, 2018

Sebelum Pukul Dua

Image
Tengah malam di belahan bumi bagian Oceania. Aku ingin terlelap, tapi ini belum pukul dua. 
Apakah kamu memuja seni, seperti aku mencintai kata?
Angka dua menjadi rutinitas. Belum bisa sebelum dua. Ah, belum dua, jadi masih bisa. Lima menit lagi pukul dua, aku harus bergesa.
Aku memandang ke luar, memasang telinga dengan seksama. Sepi--tak ada suara kecuali suara malam itu sendiri. Oh, betapa sunyi negeri ini. Aku berdiri selama dua puluh menit di beranda, dan belum kulihat satu pun kendaraan atau pejalan kaki.  Semua yang bangun sudah terlelap. Dua, dua, dua--kenapa kau tak juga di sisi?
Aku mencintai kata, seperti aku memuja seni. Seperti setiap kali aku menatapmu.
Aku terjebak dalam gelembung gram. Ini tengah malam. Setelah beberapa lama aku tersadar, bahwa kebanyakan wanita terbuat dari gula. Lalu kujilat diriku sendiri. Aku terasa seperti kopi di pagi hari. Lalu apakah aku benar-benar wanita? 
Angka dua datang lima belas menit lagi. Baiklah. Lima menit untuk menyelesaikan ini. Lima men…

Timur Jawa

Image
Halo, apa kabar? Timur Jawa baik-baik saja? Ini surat pertama dan terakhir untukmu. Tidak panjang. Aku tidak banyak bicara untukmu. Karena aku dan kamu sudah terlalu tau.

Alasan kenapa aku belum pernah menulis tentangmu, Timur Jawa, adalah karena aku tidak ingin kita berakhir seperti kisah-kisah yang kutulis sebelumnya. Namun garis itu akhirnya bertemu. Kita berada di titik temu itu untuk selanjutnya merintis jalan sendiri. Hari ini adalah penanda. Timur Jawa, selamat berbahagia dengannya.

Kau adalah ombak yang mengalunkan merdu, bintang jatuh di langit malam, dan angin penghembus rindu. Bagiku kau adalah skyscraper yang menjulang. Kau sangsaka hati dan jangkar kapal hidupku--yang tanpamu, aku tidak akan berada di tempat sekarang. Kau adalah inspirasi di segala langkah. Oh, kau juga pernah mengatakannya bukan? Bahwa aku inspirasimu. Tapi maaf, Timur Jawa, aku tidak bisa memberikan segalanya.

Andaikan aku tidak terlalu dingin dan kau sedikit lebih bersabar, aku dan kamu bisa menyusun buku…

Bumi Hujan

Image
Hujan belum berhenti. Hari ini genap sepuluh tahun hujan mengguyur bumi. Aku berdiri menatap samudera tak berujung. Tidak banyak manusia tersisa. Hanya aku dan beberapa lainnya. Kami mampu bertahan karena kami ahli pendakian.

Sepuluh tahun lalu, hujan mulai mengguyur. Kami, para penduduk bumi, berpikir bahwa hari itu seperti hari lainnya; bahwa hujan itu seperti hujan lainnya--yang ‘kan segera berhenti. Namun ternyata ia tak pernah berhenti. Semesta mengalami anomali. Jumlah air di bumi terus bertambah.. tidak lagi tetap seperti yang selama ini dijelaskan oleh sains. Langit menunjukkan perangainya. Awan tidak pernah berhenti meneteskan air mata.



Hujan telah melenyapkan seluruh dataran rendah dan menenggelamkan gunung-gunung. Jutaan manusia tidak bisa bertahan. Mereka yang diangkut kapal kehabisan pangan. Hasil pertanian tidak tersisa; ikan di laut habis dimakan. Mereka yang memutuskan untuk berenang tidak memiliki daratan untuk dituju, lalu begitu saja tenggelam. 

Hanya tersisa dataran-d…